Rabu, 18 Desember 2013

MARTO KALONG

NOVEL
oleh : Gunarso

http://martanovelku.blogspot.com/

Senin, 11 April 2011

NYANYIAN SENJA DEN AYU LANJAR)*

Oleh : Gunarso

Mata kosongnya mengarah ke deburan ombak ujung pantai utara di sore menjelang malam. Kerlip buih laut yang berpendar bersamaan dengan ombak yang berulang kali menjatuhkan diri menerbitkan bunyi seakan terus memanggil suatu untuk ikut bergabung dalam kehirukpikukan pesta ini. Suaranya terus menerobos ke dalam alam bawah setiap pendengaran mengusik keingintahuan yang ada pada situasi otak kanannya.

Jiwa kosongnya terus tergulung bersama suara debur ombak membangkitkan kenangan masa lalunya yang membentuknya menjadi pribadinya kini. Gambaran masa lalunya yang berkilat sepintas demi sepintas menimbulkan keriput di dahinya sebagai pertanda kerja kerasnya berpikir. Semuanya nampak buram serba tidak jelas, kilatan-kilatan arus listrik dalam otaknya justru menimbulkan pendar bayangan itu.

Angin pantai yang mulai mengarah ke tengah laut menyibakkan rambut tipisnya membelainya seperti mengajaknya berkencan jauh ke dalam impian kehidupan alam bawah laut.

Angin itu, membasuh dagunya mengelus pundaknya seakan bersuara lupakan masa lalumu…… lupakan….

Adalah seorang pribadi yang berkembang menjadi sekarang ini nampak kuat dalam pijakannya kokoh tapak kakinya, Adalah justru kenestapaan yang menjadi pupuk yang memberikan tubuh ini tegar. Adalah kaki yang kokoh ini yang setiap saat selalu mencari srategi mengatasi halangan, rintangan, tahu kapan harus menerjang kapan harus menghindar. Ketika harus berlari melepaskan sepi, ketika mendaki mencari mimpi, ketika berlari menghindari cerca.


Ombak pantai utara terus bergulung dengan keteraturannya menawarkan hiburan. Mencoba membantu mengungkapkan masalah dengan ramah. Kelopak mata itu sudah demikian berat, namun nadimu masih kencang menyebarkan oksigen kesegala sudut raga itu.

Matahari dengan pelahan membenamkan dirinya dalam garis laut di ujung Barat, memberikan hiburan beberapa pasang insan di pantai, tanpa harus merasa peduli apakah dianggapnya sebagai atraksi bagi mereka, atau tidak.

Adalah pasir yang berkilau memantulkan sinarnya dengan sudut datang menerpa wajah-wajahnya mengekspresikan berbagai situasi jiwa.

Adalah ia yang dengan kesendiriannya tengah mengurai satu demi satu kenangan yang mustahil disusunnya secara lengkap, adakah bagian yang kurang, adakah tahap yang belum kulalui selama perjalananku, bagian manakah dari setiap jalan itu yang membuat diri begitu tidak tahu, menjadikan kosong di suatu bagian jiwaku.

Jaket tebalnya ditarik dan dilipatkan agar lebih menyentuh dengan erat tubuhnya. Kenangan bawah sadarnya mencoba mengingatkan rasa ketika terbungkus dalam plasenta dengan lembut.

Dalam kesenjangan antara kesadaran dan mimpinya tiba-tiba terdengar bisikan halus yang memecah kesepiannya. Suara wanita yang sangat lembut dan membuatnya terbuai dan ingin segera mendengarnya lagi meneruskan bisikannya. Pertanyaan yang bertubi-tubi dan tidak ada kesempatan bagi wanita itu untuk menjawabnya, sehingga iapun tersadar betapa sangat inginnya dia untuk ingin mendengarkan suaranya lagi.

Bahkan kemudian, ketika dua wajah itu saling berhadapan sang pria sangat mengagumi sesuatu yang memancarkan kembali sinar senja dari wajahnya. Begitu lembut, begitu ayu, yang mengalir memasuki jiwanya menjadi tenang setenang air laut dihadapannya.

Bahkan akhirnya ketika belum juga ada suara untuk saling menyapa, sejatinya mereka sudah sangat jauh saling berkomunikasi, melalui indera yang tidak dibatas waktu. Dalam ruang itu yang tidak memerlukan suara, gerak bibir dan kegiatan fisik ini sepasang insan itu saling berkomunikasi, saling kenal bahwa bisa lebih jauh dari itu.

Dalam suasana bawah sadar itu, yang tidak dapat diukur dengan satuan fisik, beberapa pertanyaan dapat disampaikan dalam sekejap ribuan sanjungan dapat diutarakan dalam waktu yang bersamaan.

Hubungan bathin yang mempunyai kapasitas yang luar biasa dalam hitungan detik. Lantas dapat mengubah muka pria iu menjadi lebih cerah, lebih berbinar dengan gairah asa meninggalkan kusut di hatinya, menghilangkan kerut di dahinya. Dalam sekian saat yang cepat itu ia juga dengan segera mendapatkan tanggapan yang ia sangat tahu maknanya, yaitu kesepakatannya untuk memersatukan diri dalam jalinan persahabatan yang sangat erat, untuk berikutnya tanpa menutup kemungkinan bisa jadi untuk saling bercinta.

Percakapan maya yang dilakukan tanpa ukuran waktu itu, membuat sang pria seakan menemukan kembali jati dirinya, betapa ia kini ada seorang yang mengaguminya, mengusungnya ke daratan yang sangat tinggi, mendapatkan harkat yang sangat terhormat. Melupakan duka dalam setiap perjalanan hidupnya, keluarganya yang entah dimana, kekasihnya yang meninggalkannya dan teman-teman yang semakin menjauh karena ketiadaannya.

Semua cerita duka itu seketika terlupakan dengan hadirnya sosok perempuan yang baru saja ia temui namun telah beribu ungkapan sudah saling dipertukarkan. Yang ada adalah jalan yang luas terbentang menuju suatu istana penuh dengan gemerlap bersanding perempuan yang cantik yang selalu memanjakannya.

Berjalan dengan pasti, dengan senyum yang mengembang, dada membusung, menuju arah yang tanpa sadar diarahkan oleh perempuan itu kesuatu tempat yang terlihat demikian menyenangkan, demikian membuat hatinya berbunga dengan harapan yang ia yakini akan semakin membuatnya sejahtera bahkan dalam keluarga yang dia dambakan.

Langkahnya pelan, seakan ingin menikmati semua peristiwa yang menyenangkan ini untuk tidak terlalu cepat berlalu. Dengan bimbingan wanita cantik disampingnya yang sudah ia anggap sebagai permaisurinya itu ke arah matahari yang semakin redup memasuki cakrawala di sisi Utara.

Sementara orang-orang lain asik dengan dirinya masing-masing tenggalam dalam ilusinya masing-masing. Pria itu terus berjalan menuju deburan ombak pasang naik yang mulai meninggi. Kakinya sekali-kali terbasuh oleh riak-riak kecil yang sampai ke pasir pantai semakin mendekati air pantai yang lebih dalam.

Tapak kakinya terus meninggalkan bekas di pasir basah yang selalu dengan cepat terhapus oleh ombak panti, langkahnya terus menuju laut hingga terbenam sebagian kakinya, sampai ke lutut, ke pinggang dan pria itu terus berjalann menuju laut lepas. Sementara jiwanya merasakan ketenangan yang luar biasa didampingi wanita cantik tanpa merasakan deburan ombak yang semakin tinggi mengenai pinggangnya dan ….. seluruh tubuhnya.

)* Den Ayu Lanjar atau Dewi Lanjar adalah mythos di pesisir pantai Utara Jawa yang mirip dengan cerita mistis Nyi Roro Kidul di Pantai Selatan Jawa.

Selasa, 21 Desember 2010

LAYANGAN (Crito boso jowo Pekalongan)

Nggal mongso ketigo jaman mbiyek kegiatane wong Pekalongan mesti ora adoh soko dolanan out door, ora tuwo, ora enom, ora bocah, nek wayah sore kabeh koyo tumplek blek ning plataran utowo lapangan, opo meneh yang usum liburan sekolah. Salah sijinee dolanan sing dadi favourite yo dolanan layangan. Opo meneh jaman mbiyek khan ora ono dolanan sing macem-macem sing luwih menarik minate cah-cah. Ora kepanasen, ora kringeten, lan ora reget, wis pokok angler kae si. Main PS nang omah opo nang rental sing ber AC, utowo browsing internet lan-liya-liyane. Jaman mbiyek sing disebut nang crito iki yo sak durunge tahun 80 an awal.

Main layangan memang koyo-koyone dolanan sing paling merakyat wektu kuwi. Dari mulai cah-cah cilik sing mung nggo sekedar dolanan tok, nganti sing kanggo lomba. Nek cah-cah cilik dolanan layangan biasane nganggo layangan sing ono buntute, buntut iku disamping gunane nggo keseimbangane layangan, ugo nggo tondo karo liyane bahwa layangan iku ora melu nggo sangkutan. Layangan nek ono buntute berarti ora keno di sangkut utowo dilawan, iku aturane, ora tertulis si tapi yo dituruti bae.

Kebanyakan layangan yo asike memang nek nggo sangkutan. Antara benang layangan siji karo benang layangan liyane disangkutke ning nduwur, sing biso nugelke benang layangan lawan yo kuwi sing menang.

Ben biso nugelke benang layangan liyo kudu nganggo taktik, disamping milih benange kudu sing ulet koyo merk kuda terbang utowo cap gajah sing nganggo gelok kayu. Juga kudu dilapisi bahan tertentu ben benang ketutup ben luwih kandel tur kasar ben bisa nugelke benang lawan.

Bahan sing nggo nglapisi benang kuwi jeneng gelasan. Benang kudu digelas ndisik sak durunge dienggo main. Gelasan biasane terdiri dari lem kak ( lem kayu ), lem gunane nggo nempelke serbuk beling nang benang, dicampur karo gilingan beling koco ditambahi pewarna ben menarik trus dighodhok. Trus benang sak gelok-geloke dicemplungke nang adonan gelasan kuwi trus di ler ben garing.

Benang sing wis digelas dadi kasar tujuane ben biso nugelke benang lawan, tangan be biso kebeler nek pas ngikal benang kuwi ning kaleng bekas roti. Tangane kudu di lapisi karo kulit sapi, ben ora kebeler.

Nek wis entuk benang gelasan trus kudu milih layangan. Milih layangan yo ora baen-baen si, tergantung soko coro dan taktike memainkan layangan pas disangkutke.

Strategi nyangkutke layangan ben menang ono pirang pirang coro. Antara lain main ambatan, nyonggo, utowo gotrekan.

Ambatan kuwi corone narik benang layangan sak kenceng-kencenge begitu keno benang lawan. Nek main ambatan kudu milih layangan sing ora gegeden ben lincah milih bagian benang sing merupakan kelemahane layangan, yoiku bagian sing cedhek tali guci.

Nek nyonggo biasane nganggo layangan sing ukurane gedi antara setengan nganti sak meter tinggi ben benange manteng kenceng. Layangan diperikke nang musuh lewat ngisor trus nek wis keno benang musuh trus disonggo, layangan diangkat menduwur, karo di ulur sitik ben ono gesekan nggo nugelke benang lawan. Main layangan coro kuwi kudu modal benang sing dowo, paling ora rong kelos. Mergo sing diincer biasane layangan cilik-cilik sing ono ning ngarep sing adoh-adoh.

Ono meneh coro sing akeh di dianut poro penggemar layangan yoiku gotrekan. Nek wis keno benang lawan trus layangan digotrekke digawe muter-muter, tujuane yo dipenteng ben layangan musuh kegowo trus dadi tidak berdaya, benang lawan dadi nekuk trus dadi rantese benang mau.

Ono kepuasan tersendiri nek bisa ngalahke lawan-lawane, sekedar hobby, ora sitik wong-wong sing nduwe modal nggawe loteng ning ngomahe mung nggo main layangan thok. Wong sing sugih nduwe modal, biasane pesen layangan sing gambare khusus sesuai selera lan kepribadianne sing nduwe.

Gambar-gambar layangan macem-macem tapi ketoke wis dadi pakem, ono sing jenenge pupuk (sudut bagian nduwur diblok warna tertentu), jalu (bentuke koyo jalu ayam digambar dari ujung kiwo utowo ujung tengen), Jalu tarung (jalu sing ono di kiwo karo tengen), jalu pupuk (jalu sing digambar soko sudut atas), selendang (semacam pita digambar koyo pita di sisi kiwo/tengen), moto/koco moto (lingkaran), pojokan (tiap sudut layangan diblok warna tertentu), slendang jalu (perpaduan jalu karo slendang), jalupupuk (perpaduan jalu karo pupuk), kalung (gambar sing nyambung dari ujung kiwo tekan sudut tengen) lan liya-liyane. Ketoke jarang ono gambar layangan sing nyimpang soko pekem kuwi … ora kreatif ho ….

Mongso ketigo nek wis bar panen khan akeh sawah-sawah sing kosong setelah dipanen tur durung ditanduri meneh. Lahan-lahan kosong kuwi biasane dienggo lomba layangan, nganggo system gugur, sing menang terus entuk hadiah wedus utowo pit, tergantung panitia.

Cah-cah sing ora nduwe cukup modal yo ono carane ben entuk layangan. Mung gawan pring karo sangkrah dipasang ning ujung pring mau nggo ngrayah layangan sing tugel utowo kalah tarung. Sangkrah kuwi terdiri dari ranting-ranting garing trus disusun dipasang nang ujung pring mau, nek ono layangan tugel sangrah diputer ben benange sak layangane nyangkut nang sangkrah kuwi. Nek pas ono layangan tugel cah-cah mau do rayahan, biasane yo sing entuk sing nduwe gantar / pring sing paling dowo.

Nek ono layangan tugel khan benang dadi klangsah mengisor, nang gendeng utowo nang wit-witan. Ono juga cah-cah sing nakal benang bekas layangan sing tugel dicantolke utowo disangkutke ning sesuatu, dadi susah ditarik. Nek dipekso yo dadi tugel. Lah tugelane mau dijupuk dienggo layangan nganggo layangan sing entuk soko rayahan layangan tugel.

Ono meneh sing luwih jahat, benang layangan sing wis tugel mau sengojo disangkut nganggo sangkrah, trus ditarik nganti tugel. Perbuatan sing ora terpuji kuwi mau jenenge ngebreng. Oran sithik wong sing kroso dibreng marani nggon sing kiro-kiro benange dibreng mau. Tapi biasane cah sing ngebreng wis mlayu.

Blekupon, memang jarang wong sing biso nggawe blekupon iku, disamping luwih likrik tur keseimbangan karo teknik liyane kudu dikuasai. Blekupon kuwi semacam alat sing digawe soko rautan pring trus dilapisi kertas minyak, koyo nek pak nggawe layangan, tapi bentuke bunder loro kiwi tengen. Blekupon di pasang nang benang sing wis ono layanange nang nduwur. Blokupon mau biasane biso diengo nggowo mainan sing arep diculke neng nduwur. Blekupon sing dibuka sayape sing berbentuk bunder mau keno angin mumbul menuju layangan sing ning nduwur. Nek wis tekan nduwur benang layangan disentak utowo ditarik, bersamaan dengan itu blekupon ngeculke mainan soko nduwur, lan sayap blekupon dadi mencingkup dadi trus mrosot mudun ora katut angin meneh. Mainan sing diculke blekupon biasane ya pesawat-pesawatan, terjun payung, doro-doronan utowo yo mung kertas sing di suwir-suwir.

Nek nang Bali utowo daerah lain ono lomba apik-apikan bentuk layangan, nangopo lomba sangkutan layangan ora di usumke meneh nang Pekalongan, mesti srame …


Jakarta, 21 Desember 2010

Minggu, 14 November 2010

Letusan Merapi, 26-10-2010

Fisikku memang ada disini

Tetapi pikiranku melayang-layang menyusuri jalan-jalan kecil kumuh di perkampungan Meguro Tokyo
Aku memang masih berada di tengah empat dinding dua setengah meter tinggi,namun tak bisa secara total mengungkungku untuk sampai saat sore nanti tiba.
Aku saat ini tidak sendiri, bersama ribuan makhluk-makhluk sepertiku berbaur saling berkomunikasi dan melebur bagai amuba.
Dalam komunitas inipun sebenarnya tidak juga dapat menyancangku untuk tetap diam tetap disitu

Aku berhak bebas

Aku berhak melakukan petualanganku sesempurna mungkin yang aku inginkan selama tidak bersama ragaku yang ada di sudut ruang pengap itu

Aku memang membalas sapaan, menoleh menghadapkan mukaku kepada seseorang yang mengajak bicara denganku. Tetapi pada hakikatnya aku tengah menikmati pengembaraan yang sesuai dengan keinginganku yang tanpa biaya ini

Kuil-kuil budha di sepanjang tembok china itu, layaknya masih berbicara saja memamerkan setiap ujung dari setiap bentuk indahmu, masih saja berbicara padaku dengan ramah

Vulcano di Iceland begitu menyentak kesadaranku untuk tidak melakukan hal-hal yang membosankan.

Disini, dikomunitas mayaku, aku dapat berubah ujud menyelaraskan kondisi tempat ku berada, kulitku ini bisa berubah seperti bunglon atau bisa tidak terbentuk seperti apapun

Angin darat melayangkanku kearah laut dengan perlahan
Mulanya seakan ragu apakah ku mau memulai perjalanan ini bersama sejauh angin berhembus
Air laut yang begitu luas tak terhingga seakan hendak menelanku dengan lidah-lidahnya yang berloncatan menggapai-gapai tubuh abstrakku, menawarkan wisata lelehan lava di gunung bawah laut Hawai.
Semakin jauh menuju laut biru

Ada semacam keraguanku ketika kutemui malam
Dalam gelap apakah diri ini bisa menembus pekat yang kau selimutkan
Sementara tubuh tak berujudku melanglang mengarungi memenuhi mimpiku
Gelap adalah hal yang tidak kurasakan dan kutangkap dalam indraku

Keadaan fisikku melagukan tembang
Sementara jiwa abstrakku terus menerobos dalam diam namun kumengerti ketika alam berbicara
Dalam gelap ini justru semuanya sangat nyaring membisikkan niat tulusmu, membimbingku ke dalam lobang kedamaian yang kurindukan, ketenangan yang kutelungkupi membawaku hari-hari ini semakin abadi

Kegundahanku padamu,
Merapi
‘Kenapa’ kuharus tahu dirimu yang semakin hari semakin membuatku mengernyitkan alisku walaupun tidak kukatakan sepatah katapun keluar dari mulutku tanpa ucapan dengan makna ‘kenapa’
Adakah ini hanya sekedar menuruti hukum keseimbangan alam belaka
Adakah ini juga sebuah petaka yang sebagian besar tidak kuiningini
Aku masih ingin tahu semua isi di dalam dirimu dalam perutmu, magma dibawah lapisan-lapisan tanah yang berasal darimu jua.
Adakah juga mengerti penderitaannya.
Adakah juga masih ingin mengubur petilasan budaya abad ini seperti seribu tahunan yang lalu

Aku masih ingin bertanya, bolehkah aku turut bersedih dan memohon untuk menghentikan semua ini



Jakarta, 26 Oktober 2010

Rabu, 25 Agustus 2010

AKU INGIN ......

Aku menyebar bagai debu beterbangan ke segala penjuru bersama angin
Kadang membumbung tinggi, kadang mendatar menjangkau wilayah seluas aku bisa
Terbelah menjadi molekul-molekul, atom, proton, ion, energy
Membebaskan diri dari grafitasi bumi, dari masa, dari ujud, dari volume
Sehingga aku bisa melesat secepat yang kuingini, tanpa hambatan kepekatan udara,
Memasuki bermacam-macam diri melebur secara bersamaan, bersama nafas-nafas dari berbagai karakter jiwa

Mengamati gerak otot tangan-tangan petani, buruh pelabuhan, pemulung dan mbok-mbok pencuci baju harian, meregang ketika menyusun kekuatan
Terus menggerakkan otot-ototnya demi untuk menghidupi anak isteri, tanpa peduli adakah rezim ini menghiraukan dirinya untuk menjadi lebih baik dan lebih bermartabat; baginya martabat adalah kerja keras dan keringat yang mengalir ketika menerima imbalan bagi keluarga tersayang
Baginya,bermartabat bukannya mengukir namanya lewat opini
martabat bukanlah duduk dengan pongah di atas jok mobil mewah sambil melingkarkan tangannya pada pinggang perempuan.
Diri ini masih belum pantas untuk disebut berbakti pada negeri, pada lingkunganpun ia merasa tak perlu dipuja, diambil fotonya dicetak pada Koran oleh wartawan : “inilah kemiskinan yang melanda”.
Ia hanya tak paham, ketika bergelut dengan keringat, seluruh mata pembaca Koran meletakkan iba padamu, ketika namamu seolah mewakil I 4 juta penduduk miskin, kau tidak peduli, berharap dapat rejeki, itu hanyalah demi sebagaian pergerakan devisa yang menggeliatkan dunia usaha, tanpa berarti apaapa baginya.

Aku berada di salah satu sel di hati seorang supir taksi tua, menjalankan mobilnya secara terukur namun pasti
“Aku bukanlah siapa-siapa, tidak pantaslah aku menjadi pilihanmu untuk kau eksploitasi untuk mengingatkan dunia melawan rezim yang kau benci
Aku sudah tidak mempunyai itu, suaraku akan tidak dianggap meskipun di depan kamera tv
Merenungi diri juga tidak menjadi pilihanku yang akan segera dengan cepat meluruhkanku”
Bibir lemah itu, begitu lemah namun suaramu lantang ketika menyebut Mu. “Allah lindungi aku, keluargaku, warga bangsaku dari segala prasangka dan kami dapat menyatu mengembangkan diri, menjadi negeri yang asri untuk dihuni.”



Menyusup ke dalam daging politisi menyerna membelah helai demi helai masalah



Aku menyebar ke dalam diri setiap wanita setiap pria, setiap anak setiap dewasa setiap engkau semuanya
Aku memasuki diri setiap semuanya

Ketika kuberada dalam aorta dekat dengan degup ketidak sabaran demonstran
Menerobos memasuki liang demi liang pemikirannya
Aliran darahnya begitu deras, menerobos batas logika membumbungkan ambisi dan ketidak sabarannya untuk mendekatkannya dengan kekuasaan
Itu sah saja, itu benar saja sebagaimana layaknya hujan yang turun disaat tidak dibutuhkan menyiram bumi, itu wajar saja. Sewajar sebagaimana lahar Gamalama menyembur dari perutmu menakuti warga terdekatnya, itu tidak luar biasa. Itu hanyalah fenomena yang jarang kita lihat sehingga menjadi suatu yang istimewa. Engkau masih belum dibutuhkan oleh jaman.

: kegelisahannya demikian cepat melaju berpacu mengungguli fana

Pada hakekatnya adalah
keseimbangan yang dapat ditafsirkan ganda dari sisi jahat dan sisi yang lain

Sebagai makhluk yang tidak berbobot, aku memang tidak bisa apa-apa
Kehidupan memang di design sedemikian rupa sehingga tidak menjemukan, penuh dengan gerakan, perubahan, ketidakstabilan, kemajemukan
yang dalam pandangan diriku yang menyebar sampai ke langit biru adalah bermakna rutinitas belaka, selalu berulang pada setiap dekate, ratusan,ribuan,jutaan tahun sekalipun.
Bahwa semua kita adalah pelaku dari perilaku yang sangat rutin


Aku semakin ingin, semakin menyebar sampai ke awan
Disitu kutemui kandungan air jenuh yang siap menerjunkan diri menjadi suatu berkah bagi umat manusia.
Dalam diri itu, semakin nampak bijak menurutku dapat memandang bumi dengan lebih luas, memandang dengan ukuran yang sekecil-kecilnya

Aku semakin ingin meluas, semakin tinggi karena dari ketinggian itu muncul kabijaksanaanku
Aku tengah membumbung tinggi kea wan, semakin kecil rumah tinggalku diantara kota, diantara pulau diantara negeri di dunia ini
Bagaimana hijaunya hutan di samping rumahku, tidak pernah kusadari
Sungai jernih yang melingkupi halamanku, belum membuatku merasakan kesejukan
Karena belum terkuak niatku untuk melakukan introspeksi ke dalam diri, betapa lemahnya diri ini, betapa tidak kuatnya pemikiranku untuk mencipta peluang seperti yang ada pada warga negeri maju
Semuanya memang harus dimulai dari diri ini.


Sementara pada diriku yang lain

Aku sedang menyusup pada pembesar, pemimpin, pembuat keputusan, yang memimpin 136 juta jiwa.
Marasuk ke dalam kecurigaannya, tentang dorongan membuat kebijakan yang justru akan menjerumuskannya pada problema yang lebih rumit
Dalam kehati-hatiannya, dalam menakar baik dan buruk, yang oleh sebagian orang adalah keterlambatan mengambil keputusan,
memaksa untuk cepat bertindak adalah bisa jadi suatu jebakan untuk menjerumuskan diri pada kesalahan yang akan menghancurkannya
Dari sisi kebijakannya, aku terus menerobos menembus hingga tembus aura yang memancarkan
Adalah cahaya
Adalah kharisma
Adalah dia yang dipilih oleh puluhan juta orang yang mengharapkan mukjizat dari tangannya.
Pandangan mata yang menyejukkan itu
Jangan kau ubah menjadi pandangan pemberontakan kedamaian
Karena itu adalah yang dapat mengalahkan opini publik yang diciptakan semena-mena
Aliran darahnya demikian hening, bagai air telaga beriak terkena angin sepoi-sepoi menyejukkan
Bersama oksigen mengalir kedalam pemikirannya, sekali-kali menyusup kepada pori-pori itu yang sangat lembut,
Tidak ada, mudah-mudahan tidak ada kutemukan niat jahat memainkan kekuasaannya, sebagaimana dicurigakan pada kebesaran pangkatnya


Menyebar, aku ingin terus menyebar ke dalam diri, ke dalam kamu, ke dalam makna
Pengusaha sukses yang selalu tidak puas dengan perlakuan negeri ini
Sebagai pembayar pajak besar, berkontribusi besar, memberi nafkah bagi banyak keluarga, memberi pekerjaan bagi banyak orang
Sementara di jalan raya tetap kena macet, dihantui ketakutan perampokan, pelayanan kewarganegaraan yang tidak diistimewakan, disuguhi pemandangan yang sumpek, kotor dan kesemrawutan lainnya yang ia alami, sungguh sangat tidak sebanding dengan apa yang telah ia sumbangkan pada Negara
Perlakuan yang lebih baik ditawarkan oleh Negara tetangga, menjadi investor di Negara lain yang siap memperlakukan sebagai warga Negara pilihan yang dimanja, kekayaan itu harusnya akan sebanding dengan kenikmatan hasil dari jerih payahnya.

Aku menyebar, terus menyebar terbang terbawa angin kemana-mana
Pada perusahaan milik Negara yang tidak pernah bisa bersaing dengan swasta murni, karena berbagai keharusan-keharusan yang kabarnya selalu menghambat pacuan larinya untuk mengejar mensejajarkan dengan yang lainnya

Mengikuti udara yang terbawa bersama darahnya, menyebar keseluruh raga, ke otak segala
Mengikuti aliran darah pegawai yang tidak korupsi.
Semangatnya terus menyala mengejar dahaga memuaskan insan secara merata
Demikian sibuknya ambisi memuaskan hasratmu menuntaskan tahap demi tahap persoalan
Meniti ilmu demi ilmu, melangkah demi masa depan, berkeringat demi sebuah nama
Adalah nama yang hanya bisa dia tinggalkan keanak cucu, maka itu jagalah agar ia tidak terjamah oleh noda

Pada dasarnya manusia sama
Darah yang mengalir lewat nadi, melewati ginjal, jantung, jari kuku dan benak
Anatomi yang hanya Engkau Allah yang tahu persis system itu bekerja secara sempurna
Itulah yang kutahu secara minimalis
Karena pengembaraanku yang aku tak tahu pasti
Kapan harus kuakhiri ini

Pada pengusaha yang curang, memanipulasi data, menjadikan catatan keuntungannya menjadi lebih kecil sehingga meniadakan kewajiban setor pajaknya, sedangkan kenikmatan subsidi bensin, subsidi listrik subsidi angkutan dan kenikmatan serta kemudahan lainnya kau serap dengan tanpa batas.
Inikah balasan bagi Negara yang mengatur insan berbangsa.

Aku menyelipkan diri diantara helai demi helai uang
Yang kemudian bergabung menjadi suatu angka 1.407 trilun
adalah berkat pengupulan pajak dan non pajak yang diperoleh secara ikhlas.
Untuk guru yang senantiasa berbakti tanpa mengenal lelah
Untuk membangun jalan agar lebih baik, mengatur pangan secara merata
Agar lembaga peradilan dapat berfungsi baik menegakkan hukum, menghukum yang salah
Membangun bendungan agar petani lebih mudah mendapat air untuk bertani
Membayar guru secara proporsional sesuai dengan jerih payahnya.
Mendanai propaganda ke luar negeri agar orang asing mau menginvestasikan dana disini

Aku menerobos kebanyak sekali aliran darah merah yang sehat dengan hb tinggi
Yang tidak pernah berhenti, memacu berkat semangat mengejar mensejajarkan diri dengan sekaum yang lain.
Detak jantungnya berdetak bagai hendak menyentakkan dunia menyatakan kami sedang berubah
Meskipun tidak secepat jepang, korea, china kemajuan itu adalah pasti ada
Mereka bisa katakan kami sudah lebih maju
Tidak ada lagi kini pengemis yang mengais makanan seperti pada jaman jaman terdahulu
Supir angkutan dengan bangga menjadi warga bangsa
“Kami telah berubah, sebagai supir angkutan bus umum, kemacetan tidak lagi bersumber dari angkutan umum, kami jauh lebih tertib dan beradab”

Tetapi aku kecewa ketika berada pada satu jiwa yang cenderung merusak tatanan yang ada

Koruptor yang tidak punya nurani

(Koruptor yang tidak sengaja
yang tidak tahu
yang dihasut dan dijerumuskan anak buahnya
yang pura-pura tidak tahu dan pura-pura terjerumus
yang memang tidak tahu dan tidak menikmati hasilnya
yang belum diputus pengadilan)
memang sulit dikelompokkan

Yang sebagian besar orang mencacinya sebagai manusia yang rendah dari yang terendah
Oleh sebagian besar kita
Tanpa menyadari dirinya pernah melakukannya
Di jalan raya ketika memotong jalan kendaraan lain
Di antrian tiket dan ATM ketika menyerobot antrian
Di stasiun kereta yang membeli tiket melalui calo, sementara memupus penumpang lain yang mengantri dari pagi
Pedagang yang dengan sengaja membayar kembalian kurang
Membuat pagar rumah hingga ke jalan milik umum
Pegawai yang menitip absen

Bahwa membuat sertifikat ganda melalui cara yang tidak legal demi mendapatkan ganti rugi gusuran rumah yang berlipat adalah koruptor juga yang harus diberantas dari negeri ini

Bahwa memanipulasi data untuk mengecilkan keuntungan sehingga berkurang setoran pajak dari yang seharusnya adalah musuh masyarakat.

Aku dengan terpaksa tidak dengan sengaja tiba-tiba berada pada nadi koruptor
Dengan pemikirian buruknya menyebar kedalam seluruh dagingnya, membusuk merasuki jiwanya
Dengan tega menebarkan kebusukannya pada keluarganya, isterinya, anaknya
Aku berada ditempat terburuk dari yang terburuk



Aku semakin meluas hingga batas cakrawala
Meninggi hingga batas yang tidak terhingga
Menjauh dari yang terjauh, mengukur waktu dari segala peradapan
Hanya satu yang dapat menghentikan petualanganku ini
Allah ya robbi


Bekasi, 30 Agustus 2010

Jumat, 23 April 2010

poem 2010

puisi pertama

aku masih belum merasakan sekian tahunku tinggal di tanah air ini berarti
tahun-tahun ku itu tidak membuat gundah ini berlalu
bahkan pucuk cemara aloon-aloon di pusat kota yang sampai sekarang masih
terlihat melambai kan daunmu memanggilku ....... kemari
barangkali ada suatu yang akan kau bisikkan ditelingaku ketika waktuku sibuk mendatangi propaganda politikus untuk membrangus pegawai yang terkena kasus

aku masih berpikir, ada harapanku mengalami negeri setertib impian aktivis waktu itu
pemberian tidak legal dan penerimaan materi yang berpotensi melencengkan niat tulusnya suatu peraturan yang membikin tertibnya negara ini

aku masih tidak percaya, masih limbung aku ketika kuinjak tanah yang sama pada sekian tahun yang lalu
ketika harapanku memuncak meraih kenyataan menyaksikan negeri ini terbebas dari apa itu korupsi
sekian tahunku berdiri disini
tidak juga mendatangkan perbaikan yang berarti
adalah generasi ini juga yang menggemborkan pemberantasan korupsi dan pelarangan gratifikasi
adalah generasi ini juga yang meneriakkan dengan lantang buktikan secara terbalik

aku masih belum bisa mengucapkan suatu kata meskipun lirih
negeri ini memang sayang untuk ditinggal
tetapi makin tidak nyaman untuk tetap berdiam diri

adakah akan tiba saatnya kelak
penegak dan pemberi keadilan menjalankan fungsinya dengan baik
sehingga tidak perlu lagi komisi a komisi z yang bisa jadi menjungkirkan tatanan bakunya

tidak saling serang melalui senjata ampuhnya yang saat sekarang ini diperebutkan,
opini publik

ya, opini publik bisa saja dibentuk berdasarkan kepentingan suatu kelompok dan golongan tertentu
bahkan oleh orang diluar sana, yang menjadi investor pertanian kangkung disini misalnya

maka., demi suara rakyat yang tidak cakap beropini mengharapkan
negeri ini segera terbebas dari saling fitnah dan saling membunuh karakter
saling bertengkar melempar tanggungjawab

mari
berkelompoklah kita sesama yang mempunyai ketidaknyamanan menyaksikan etalase memajang adegan yang menggelapkan mata
memerangi sandiwara ini untuk segera diakhiri

petani, pedagang, penjual sayur, tukang tambal ban, penarik ojek, makelar, pilot, tukang kebun, dokter hewan – gigi – manusia, panjaga museum, pengatur penerbangan, penarik becak dan sejuta profesi lain yang dengan ini tidak pandai beropini sebagaimana disuarakan oleh pemilik kepentingan dan oleh karenanya dengan ini menolak dengan ikhlas bahwa opini publik itu bukanlah suara bulat seluruh penghuni negeri ini.

barangkali jumlah anggota kelompok itu lebih banyak dari yang ada di facebook atau pooling portal di dunia maya atau yang masuk tv diwawancara,
tetapi dengan ikhlas juga kami ingin sampaikan bahwa

kebutuhan perut tidak bisa ditunda
perbaikan memang dirasa ada
namun lonjakan adalah tiada
walaupun kesempatan sudah tiada
tinggal harapan bagi kaum muda
yang saat ini ada
tanamkan tekad di dada
terbang setinggi garuda
maksimalkan dengan modal yang ada
ciptakan kesejahtaraan rakyat menjadi ada
masukkan tikus-tikus dalam keranda


bekasi, 23-04-2010

Selasa, 13 April 2010

KALI LOJI

KALI LOJI
(Boso Pekalongan)

Siji-sijine kali sing ngliwati kota Pekalongan, sak ngertiku yo mung kali Loji. Wit soko Sapuro trus ngliwati Kauman, Kergon, Pesindon, Gambaran, sepanjang jalan Diponegoro sampek tekan ngeboom.

Sak durunge tekan ngeboom ono kali cilik sing bermuara nang kali iku yoiku kali sepucung, ono brook cilik sing cukup terkenal yoiku brook sepucung, kaline cilik tur karena wis sejajar karo permukaan laut dadi yo ketok ora jalan, mung koyo genangan tok.

Bruk sepcung iku mbiyek terkenal angker. Karena nggone sepi adoh soko perumahan tur peteng dadi ndadekke suasana tambah angker. Opo meneh dihubung-hubungke karo crito mistis Den Ayu Lanjar (Ratu Kidule pesisir Lor).

Jaman mbiyen pemukiman keluarga memang ora iso adoh soko kali. Karena pada dasarnya menungso memang ora biso lepas karo sing jenenge banyu utowo kali utowo kalen nek cilik,. baik banyune sing dienggo kebutuhan urip, utowo hasil ikannya sing biso dikonsumsi. Dadi, kuto-kuto sing cedak kali bisa jadi berawal dari kehidupan menungso sejak jaman mbiyen banget. Paling ora sak durunge ono sistem irigasi sing bisa nyebar alirane kali ben biso menjangkau tempat sing luwih ombo.

Nek musim ketigo, kali loji kuwi warnane biru kehijau-hijauan, ketoke tenang karena memang kemiringane memang ora pati nemen. Bedo karo nek wayahe musim udan kaline dadi warnane coklat, karena karo nggowo larutan tanah soko pegunungan sing kegowo udan.

Kali loji iku juga bisa dinggo alat transportasi pertanian soko hulu. Ning cedak deso Sapuro ono sing buka usaha pring / bambu. Pring-pring sing soko nduwur dirakit dadi gethek, trus mung dikelekke thok, karo ono wong siji sing njogo karo mengendalikan lakune pring utowo gehek iku nganggo tongkat.

AJAR NGLANGI

Mergo kali sing ketoke tenang lan adem kuwi ndadekke sopo wae kepingin nyemplung nek mangso ketigo. Ora kejobo sing nggawe crito iki. Dek jaman cilikanku ajar nglangine yo ning kali loji iku, tepate ning cedak jembatan kereta api sing ning jalan Kartini iku.

Awan-awan bar mulih sekolah khan biasane ada acara makan siang dan tidur siang. Pada waktu tidur siang iku, disaat omah sepi kuwi, ono kesempatan metu liwat tembok mburi. Biasane wis ono cah-cah liyo sing nduwe niat podo yoiku kungkum ning kali loji, utowo ajar nglangi, soale mbiyen durung ono kolam renang.

Sakdurunge mangkat biasane ono sing nggowo gedebok / wit gedang sing wis ditegor, nggo ajar nglangi.

Sak rombongan biasane ono cah papat tekan wolu, biasane yo ono sing dituakke sing wis pinter nglangi, mlaku kiro-kiro 1 km ngliwati brook sepur.

Sing ora biso nglangi tur ora nduwe niat sinau nglangi yo mung kungkum thok nang pinggiran sing cetek. Sangsoyo menengah sangsoyo jeru,nganti kedalaman maksimal yo sekitar rong meteran. Ning tengah-tengah kali ndilalah ono tanggul bekas nggo nggawe brook sepur sing iso nggo ngadeg tanpo harus berenang, nek ngadeg ning tanggul iku yo banyune kali dadi sak weteng. Tanggul iku sing ngerti posisine yo cah tertentu tok karena nggone nang tengah kali tur ora ketok soko daratan. Isone mung diraba-raba thok karo nganggo feeling.

Lha posisine sing ngajar nglangi kuwi ngadeg ning tanggul iku. Siji-siji gentenan cah-cah mulai ajar nglangi nganggo gedebok sing wis disiapke soko ngomah. soko pinggir kali tekan cah sing ngajari nglangi sing wis ngadek ning tengah kali. Ora diajari carane koyo opo, sing penting cah-cah mau biso jalan tekan tengah kali. Nek wis tekan tengah ditampani karo sing ngajar nglangi trus disurung bali meneh tekan pinggir.

Mbuh karena biasa mbuh karena nemu gayane dewe-dewe cah-cah mau suwi-suwi yo biso dewe. Patokane biso nglangi nek wis biso nyabrang kali ora nganggo gedebok. Gayane yo wis awur-awuran sing penting biso nyabrang.

Ajar nglangi kuwi biasane memang dilakukan pas musim ketigo, disaat banyu kali ketok bening karo aruse lemah, dadi oran ono bahaya kintir utowo hanyut.

Tahu kedaden, ndilalah aku dewe sing ngalami, pas aku nyabrang, critane wis biso nglangi sitik-sitik, pas tekan tengah ujug-ujug aruse dadi kuat, nganti aku berusaha sekuat tenaga cepet-cepet ben tekan sabrang. Yo bener si akhirne biso tekan sabrang, tapi karena kuatnya arus kuwi, aku kegowo kiro-kiro 20 meteran dari sebrang sing dadi tujuanku. Ngrusuk ninggone semak-semak. Yo iku kejadian sing ora terduga, nek udan ning gunung khan ora bisa di perkirakan, meskipun di musim ketigo. .... Slameeeeet slamet.

KOLEKAN

Yo jenenge be isih cilik, opo-opo pingin dicoba. Weruh kali sing tenang, tur bening (yo relatif kelihatan bening lah), nek pas panas-panas khan pengine dolan ning kali. Isih jaman semono isih akeh sing nduwe prau utowo sampan. Biasane yo dienggo angkutan sing cedak-cedak utowo nyebrang kali.

Prau kuwi biso di sewo nek pas ora dienggo. Sak prahu iso nggo wong papat, sak prahu disediakke rong kolek (kolek = dayung). Donge aturanne si kudu biso nglangi ndisik sak durunge nggowo prahu, kuatire nek ono opo-opo ning tengah kali. Tur meneh wong sing wis biso nglangi jarene bedho. Nek durung biso nglangi corone munggah prau be wis wedi-wedi, dadi marakke prau dadi ora imbang utowo oleng. Bedo karo sing wis biso nglangi munggahe biso tenang dadi malah bisa nggawe prahu seimbang,ora goyang.

Kolekan kuwi soko tembung kolek=dayung, dadi kolekan yo nunggang prau sing didayung, nganggo kolek/dayung. Sak ngertiku sing sering nyewakke prau nggone ning mburi cedak SMA sing ning jalan Kartini, deke nduwe ono beberapa prau.

Rutene prau memang terbatas, paling yo sepanjang kali iku. Sepanjang aku ngalami si paling adoh nek ngidul yo tekan jembatan Sapuro Grogolan, nek ngalor yo paling adoh tekan jalan Diponegoro.

Nek arah kidul memang rodo abot, soale nentang arus. Biasane memang paling enak yo arah ngalor, soale enteng ngikuti arus. Ora mikir baline dadi abot karena nentang arus.

Ing sak wijining dino, aku karo sedulurku (kakak dan sepupu) nyewo prau nggo kolekan nggo ngisi wektu libur. Sing nunggang ono wong papat, sing ngoleki wong loro gentenan. Soko mburi SMA trus ngalor, karena mengikuti arus dadi enteng, alon-alon karo ndeleng pemandangan kiwo tengen.

Dasar musim ketigo dadi aruse ora kenceng, howone juga semilir wis pokoke marakke ngantuk. Karo ngileng-ngileng pemandangan kiwo tengen, pemandangan sing jarang tak weruhe, dari mulai rimbunan wit-witan nganti tembok-tembok sing duwur koyo benteng.

Tembok duwur sing koyo benteng kuwi jare pancen digawe margo mbiyen akeh begal rampok sing lewat kali kuwi, karena dianggep luwih aman, mergo ora ono patroli polisi. Tur biasane mburi omah khan pertahanane keamanane khan pancen kurang. Kanggone begal rampok juga gampang mlayune seandainya konangan.

Omah-omah sepanjang gambaran tekan pasar sentiling pancen temboke duwur-duwur.

Wektu iku wis tekan jalan Diponegoro, selain wektune wis awan juga pemandangan wis ora pati menarik meneh karena wis nyedaki dalan Diponegoro. Setelah rembugan sedelo trus mbalik arah menuju tempat asal, ngidul nentang arus. Memang rodo abot si tapi karena ora ndowe pilihan, satu-satunya dalan mulih yu kuwi.

Nembe mlaku kiro-kiro seprapat jaman arah mbalik, ujug-ujug ono sesuatu ning ngarep prahu ning tengah-tengah kali.. Barang kuwi mandeg biarpun keno arus kali. Mbuh sopo sing ngomong pertama aku ra pati nggatekke tiba-tiba ono sing nggembor “ ...... boyo .....”. Lha ora dikon meneh langsung do panik ra, pak mlayu ora biso mlayu, pak mundur ngko malah adoh soko ngomah, akhire dengan sekuat tenaga cepet-cepet prau dikoleki minggir. Trus podo balapan munggah ndarat.

Ono wong sing nyuci ning pinggir kali yo di gembori “ mbok ..... ono boyo mbok...”. Karepe ben ngadohi kali kuwi ben ora dicaplok boyo. Mbok-mbok sing digembori tenang tok, mbuh ora krungu mbuh opo, dikirone khan ora krungu, digembori pisan meneh “ enten boyooooo mbok...”. Si mbok mau noleh, bar kuwi neruske nyucine.

Barang mau tetep mandeg, nentang arus kali, bentuke memang koyo congor boyo. Niate si ngadohi kali ben nek dioyak boyo gampalng mlayune.

Bareng wis tekan nduwur, karena penasaran trus mengo meneh, pengine ndelok posisine “boyo” mau. Jebul bareng didelok soko nduwur nembe kethok nek barang mau jebule dudu boyo, jebule semacam bekas wit klopo sing tegak ngadek soko dasar kali. Kabeh langsung do ngguyu kemekelen. Menertawakan dirinya sendiri.

Pas mau dong mangkat khan kearah ngalor, mungkin kaline isih rodo kebak dadi wit klopo mau durung kethok, alias klelep. Tapi bareng baline, mungkin pasokan banyu soko pegunungan wis rodo kurang dadi duwur permukaan kali mau rodo mudun. Akibate yo wit klopo sing tegak nang tengah kali mau muncul, nek didelok sejajar (ora soko nduwor) persis koyo moncong boyo ......

Bar kuwi mbuh karena trauma mbuh karena kesibukan masing-masing wis ora tahu kolekan meneh.

Huuuuuh


Jakarta, 12 April 2010


SUNGAI LOJI

Satu-satunya sungai yang melewati kota Pekalongan, setahu saya hanya sungai Loji. Dimulai dari Desa Sapuro terus melewati Kauman, Kergon, Pesindon, Gambaran, sepanjang jalan Diponegoro sampai ke pantai.

Sebelum sampai pantai / ngeboom ada sungai kecil yang bermuara di Sungai Loji, yaitu kali Sepucung, ada jembatan kecil yagn cukup dikenal yaitu jembatan Sepucung, sungainya kecil juga karena posisinya sejajar dengan permukaan laut jadi tidak ada arus, hanya seperti genangan saja.

Jembatan Sepucung itu dulu terkenal angker. Karena letaknya sepi dan jauh dari perkampungan, selain itu gelap, hingga menjadikan suasana jadi tambah angker. Apalagi dihubung-hubungkan dengan ceritanya Den Ayu Lanjar (Ratu Kidulnya psisir Utara).

Jaman dahulu pemukiman keluarga memang tidak bisa jauh dari sungai. Karena memang pada dasarnya manusia tidak bisa jauh dari air atau sungai. dari mulain airnya ygn untuk kebutuhan hidup seperti memasak atau hasilnya yan gbisa dikonsumsi. Kota-kota yang dekat dengan sungai bisa jadi berasal dari sejak manusia jaman dulu sekali. paling tidak sebelumditemukannya istem irigasi yang bisa menyebarkan air ke wilayah yan glebih luas.

Kalau mism kemarau, sungai itu berwarna biru agak kehijauan, kelihatannya tenang karena memang kemiringannya yang tidak begitu miring. Beda dengan dimusim hujan, sungainya berwarna coklat, karena membawa lumpur sewatu hujan.

Sungai loji, juga bisa buat alat transportasi pertanian dari hulu. Penjual /petani bambu kalau mengirimkannya ke agen hanya menghanyutkan saja bambu itu dengan cara diikat menjadi suatu gethek, dan dikendalikan oleh satu orang yang membawa tongkat panjang.

BELAJAR BERENANG

Karena kalinya kelihatan jernih dan tenang maka menjadikan siapa saja ingin berendam apabila musim kemarau. Tanap kecuali yang mebuat cerita ini. Pada jaman kecilku belajar berenang di sungai itu, tepatnya di dekat jembatan kereta api di Jalan Kartini.

Sing-sing setelah pulang sekolah biasanya ada acara makan siang dan tidur siang. Diwaktu tidur siang inilah kondisi rumah sedang sepi, maka ada kesempatan keluar rumah melewati tembok belakang rumah. Biasanya ada anak-anak yang punya niat sama yaitu berendam di kali, atau belajar berenang. Soalnya dulu di Pekalongan belum ada kolam renang.

Sebelum berangkat biasanya ada yang membawa batang pisang yang sudah diambil buahnya, untuk belajar berenang.

Rombongan biasanya ada empat sampai delapan anak, biasanya ada yang dituakan yang bisa berenang. Jalan kaki sekitar 1 km melewati jalan jembatan kereta api.

Yang tidak bisa berenang dan tidak punya niat belajar hanya berendam saja di pinggiran kali yang dangkal. Agak ketengan kali semakin dalam sampai kedalaman maksimal sekitar 2 meteran. Di tengah-tengah kebetulan ada tonggak yang bisa buat berdiri tanpa harus berenang,jika berdiri ditonggak itu ketinggian airnya seperut. Tanggul itu posisinya hanya ornag tertentu saja yang tahu, karena tidak kelihatan dari luar, hanya bisa diraba-raba saja.

Posisi pengajar renang adalah berdiri di tonggak itu. Anak-anak gantian diajar renang, dengan cara memakai batang pisang yang sudah dibawa tersebut dari pinggir menuju ke tempat orang ditengah kali itu dengan menggunakan batang pisang. Tidak diajar cara dan metoda apapun, asal bisa maju saja sudah dianggap bisa, Setelah sampai ditengah disambut oleh anak yang ngajar renang tai dankemudian diorong lagi sampai ke pinggir, begitu gantian dan berulang-ulang.

Entah karena biasa atau karena mereka menemukangayanya sendiri-sendiri akhrinya bisa juga tuh. Dengan gaya yang tidak teratur, Asal sudah bisa nyebrang sungai bearti sudah bisa dianggap bisa.

Belajar berenang biasanya dilakukanpas musim kemarau. disaat arus air tidak kencang jadi tidak kuwatir terbawa arus sungai.

Pernah kejadian, kebetulan saya alami sendiri, sewaktu nyeberang karena baru bisa berenang, sewaktu berada ditengah tiba-tiba arusnya jadi kuat, sampai berusaha sekuat-kuatnya untuksampai keseberang. Ya memang akhirnya sampai juga ke seberang, tapikarena kuatnya arus tersebut akhirnya terseret sekitar 20 meteran dari tempat yang menjadi tujuan saya. Samai disemak-semak. ya itu kejadian yag tidak terduga, kalau hujan di pegunungan siapa yang tahu bahkan musim kemaraupun bisa juga.

MENDAYUNG

Ya namanya masih kecil, semuanya serba pengen mencoba, melihat sungai yang tenang dankelihatan bersih (menurutku waktu itu) di saat panas seperti ini penginnya sih mainnyadi deket sungai. Waktu itu memang masih banyak yang mempunyai prau kecil.

Prau tersebut biasanya disewakan apabila tidak di[akai sendiri.

Setahu saya dulu yang menyewakan prau dan mempunyai beberapa adanya di belakang SMA yang di Jalan Kartini.

Route perjalanan kalau ke arah selatansampai dengan jembatan Grogolan seddangkan kalau sampai ke Utara paling jauh sampai jalan Diponegoro.

Kalauk e arah selatan memang lebih berat mendayungnya karena menentang arus.

Suatu ketika bersama saudara, menyewa prau untk mengisi waktu libur. Kami berempat mulai rute dari belakang SMA ke arah Utara berarti mengikuti arus, jaan pelan-pelan sambil menikmati angin sepoi-sepoi dan pemandangan yang lain dari yang lain, dari muali pohon-pohon yang rimbun sampai ke bangunan-bangunan yang kadang-kadang menemukan rumah dengan tembok dinding yang sangat tinggi dan kuat.

Tembok tinggi seperti benteng itu dibuat memang untuk menghindari orang-orang jahat memasukirumahny adri belakang rumah, karena biasanya sering juga tamu yang tidak diundang lebih sering datangnya dari arah sungai karena dianggap lebih aman pbagi para penjahat, karena jarang ada patroli polisi.

Rumah dari pasar Sentiling hingga jalan Diponegoro temboknya tinggi-tinggi.

Setelah sampai sekitar jalan Diponegoro kami memutuskan untuk embali, agak berat memang kayuhan dayungnya kaena menentang arus.

Seteah perjalanan seperempat jam arah kembali, tiba-tiba ami melihat sesuatu dihadapan kami, ditengah-tengah kali, barang itu diam biarpun kena arus sungai. Entah siapa yang berterian pertama aku nggak begitu paham “ ..... bauayaaaa “. Lah langsung saja kami panik diatas prau ini, mau lari nggak bisa mau jalan mundur malah menjauhi rumah, Akhirnya dengna panik kami menepi.

Ada ibu-ibu sedang mencuci pakaian dipinggir kali itu langsung kamiteriaki “ ...... bua ada buayaaaa....” Ibu-ibu masih tenang saj mencuci pakaian. karena khawatir orang itu tidak dengar maka diteriaki lagi ibu-ibu iu dengan suara ang lebih keras “ buuuuu ...... ada buayaaaaa .....” Maksudnya agar ibu-ibu itu menjauhi pinggiran kali itu. Ibu-ibu itu menoleh sebentar tetapi dengan tenangnya terus mencuci pakaian.

Kami segera menjauhi pinggiran sungai itu memanjat kearah atas menjauhi sungai.

Setelah dari atas dari posisi agak atas, kami baru melihat dengan jelas benda yang kami kira buaya itu, dari atas kelihatan bahwa benda itu adalah sebatang kau atau tonggak yang tegak tertanam di tengah sungai. Memang dari arah yang sejajar nampak seperti moncong buaya.

Pada waktu berangkat memang air sungai relatif lebih sehingga batang kayu yang seperti buaya itu tenggelam, Setelahkembali kebetulan air agak menyusu lebih rendah jadi kayu itu muncul, persisi seperti moncong buaya.

Setelah peristiwa itu, entah karena trauma atau karena kesibukan atau kaena apa kai sudah tidak pernah mendayung lagi.

Huh


jakarta 12 April 2010

Selasa, 06 April 2010

poem

Semakin .....


Alam memang sudah berjalan menuruti keseimbangan yang diciptakannya

Tanah subur yang dieksplorasi habis-habisan, lama-lama akan tandus dan kering

Tambang-tambang minyak nan kaya bisa jadi semakin menipis

Meninggalkan ladang-ladang kusam dengan lubang-lubang menganga

Alam memang ahli dalam menciptakan keseimbangan

Hujan dan kering silih berganti saling menunggu giliran

Matahari - Bulan bisa jadi saling menutupi, tetapi dalam hakiki mereka beda

Dalam tugasnya mengisi langit-langit semesta ini


Kehidupan memang sudah diciptakan saling berganti

Daun kering yang jatuh dari tangkainya, tetap mendapat tugas baru dalam menciptakan kehidupan nabati berikutnya

Mineral dalam kali, semakin banyak dicari

Dengan kemasan makin aksi menjaring pembeli mengeluarkan materi


Kini,

Alam yang semakin memanjakan kehidupan alam semesta ini

Bisa jadi suatu ketika nanti

Mencari keseimbangan baru dengan sedikit menggerakkan bumi

“lindu ....... lindu ...... lindu”

Sedikit melimpahkan air lautnya

“tsunami .... tsunami ... tsunami”

Membinasakan kehidupan sangat mungkin terjadi demi menggantikan suatu kehidupan yang baru

Agar alam tetap dalam keadaan seimbang menurut pengertian para ahli


Kini sudah semakin dekat tanda-tanda itu

Bahan pangan makin sulit dicari bukan karena sulit tumbuh

Mineral yang terkandung dalam bumi bukan enggan memberikan gizi bagi sesama makhluk bumi

Sinar matahari yang membantu melancarkan sirkulasi agaknya juga sudah menjalankan fungsinya lebih dari baik.

Mereka menjadikan hujan dan panas saling bergantian

Sangat harmonis


Jika suatu ketika nanti

Alam sudah demikian berat menanggung tugas yang selama ini dijalani

Bukan tidak mungkin kejadian berjuta tahun silam terulang

Dan kini sudah memasuki tanda-tanda

Hasil tani sudah sangat optimal dieksplorasi

Demi jiwa yang semakin bertambah, semakin berat

Sementara tanah, sawah, ladang semakin direlakan untuk sekedar memenuhi ambisi

Rumah dan pabrik muncul bagai jamur di musim hujan

Mengurangi lahan-lahan petani

Pemilik tanah pertanian semakin malas menikmati kehidupan menjadi petani

Menjualnya kepada investor untuk keperluan pendirian pabrik

Sementara pemilik tanah pertanian mulai membuka toko kelontong dengan menjaga sambil tidur


Kini tanah pertanian semakin sempit

Jangan tanya

Kehidupan seabad nanti

Dimana kita

Semua

Sudah

Binasa

Di

Makan usiaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

Bekasi, 2 November 2008

Crito Boso Pekalongan

PENGALAMAN NANG NDALANGAN

Ora kroso wis puluhan tahun aku ninggalke Pekalongan, ninggalke dalam arti pindah tempat tinggal, ora dietung nek jedal jedul berkunjung wektu lebaran opo wektu-wektu liyo.

Koplak bis be wis pindah ping papat, wit aku cilik ngantek saiki.

Sing pertama, igik aku SD, koplak bis kuwi nggone nang aloon-aloon pojok lor ngulon, pas nggon prapatan. Karang mbiyek igik serba sitik dadi bis sing parkir be paling ora ono 10 iji. Mereke bis sing terkenal yo PO DAHLIA sing igik cok weruh ngantek saiki, ono meneh bis PO Moga dsb.

Bar kuwi mungkin wis rodo akeh mobil sing liwat nang prapatan dadi marakke macet, trus pindah nang THR, Sayun, (Jeneng THR sak temene si bubar nggo koplak bis kuwi). Wite gedi-gedi, mbuh wit opo, ketoke adem nek liwat kono.

Pindah ping telu yo nang noyontaan (melu lurah ndi mbuh) sing cedak protelon kae si. Mburine nggo pangkalane Ezri.

Sing terakhir yo pindah mereki (nyedaki) mBatang. Lha nek kuwi baru bisa disebut koplak (terminal) bus sing temenan, gedine pok.

PEDALANGAN

Aku pak crito pengalamanku nang pedalangan, nggone Mbah Katri (mbah putri), mbah kakung aku wis ora menangi. Akeh pengalaman nang omah kuwi, dasar omahe gedi, pelatarane ombo, wis koyo omah-omah jaman mbiyek kae si.

Sing pertama kelingan ya igik cilik nemen, wong TK be durung, mungkin yo antara umur 3 tekan 4 lah. Aku karo masku karo sedulur liyane igik dolanan neker nang rolak ngarep, sing dolanan yo mas ku, aku mung nonton thok. Mbuh dolanan mbuh igik ngitung aku ra pati paham, kok ujug-ujug aku weruh salah sijine neker sing rodo kusem, ora kempling koyo liya-liyane. Lha trus tak jupuk neker kuwi, niate yo tak emut ben trus dadi kempling (jijik si jane ... tapi igik cilik yo maklumlah) eee lha kok mak glendeeeer, karena neker kuwi abot karo lunyu dadi yo kelheg.

Jane aku dewe kaget karo wedi, lha weruh koyo kuwi langsung do geger jare aku nguntal neker ... aku mung dheleg-dheleg thok ishone, plonga-plongo ora ngerti pak omong opo. He he .. wagu ho ..?

Bar kuwi aku kelingan nang rumah sakit kraton, dirawat jare keno tipes.

Aku memang ora tinggal nang omah pedalangan, mung sering bae dolan nang dalangan, aku kelingan ngendikake Mbah Katri : “wis podho bae So kwijan karo nang kene. Ojo di bedhak-bedhakke”, mBah Katri mbiyek nek aku teko senenge di uleng-uleng (paringono jembar kubure).

Nang pedalangan iku aku ajar ngaji sing pertama bareng karo sepupu liyane, bar sekolah kiro-kiro bar Ashar. Nang dalangan khan akeh sedulur, dadi nunggu gilirane suwi.

Paling rahat nek pas wayahe ngundang potong rambut. Jaman mbiyek ono tukang cukur langganan sing liwat, Wo Se’un jenenge, bungkuk udang, yo coke iki tandane ilmu padi makin menunduk makin berisi. Karang wis rodo tuo, ora rodo meneh si sebenere. Dadi bungkuke karena wis umur.

Wah perkoro motong rambut wis ahline pok, cepet rampung. Opo meneh modele sing dipotong khan podo kabeh. Plontos kabeh, mung nduwur bathuk diturahi sitik.

Wis pokoke sopo bae (cah lanang) dipotong model koyo kuwi. Nek mbiyek jenenge model Bross (tulisane bener porak kiye). Ora ono sing protes, karena ora wani karo wong tuwo (wong sing wis tuwo).

Nek aku pas nang kono, ora bisa menghindar dari kewajiban dipotong wo Se’un.

Sing kelingan meneh yo pas acara-acara duwe gawe opo kuwi jenenge slameten katoke ohk seringe pok. Dari mulai tahlilan, slametan, sunatan, nikahan wis pokoke karena omahe ombo yo dadi biso bae nggo kegiatan macem-macem, ora usah nutup dalan or nyilih omah tonggo.

Tapi sayang karena listrike sitik (mung pirang watt) wektu kuwi, dadi mesti di bantu nganggo petromaks, kiro-kiro 6 nganti 8 an nyilih langgar. Bagi sedulur kabeh sing dhurung tahu weruh petromaks perlu dijelaske, Petromaks kuwi padange pok koyo lampu neon, tapi berbahan bakar minyak tanah sing disemprot kuat ning jaring sing berbentuk bolam lampu.

Lha karena semprotane kuwi sing ndadekke nyala sing padange pok. Dadi sewaktu-waktu kudu dipompo ben semprotane kenceng.

Nek pas tahlilan, jaman mbiyek, bubar membacakan doa, trus khan di hidangkan berkat sing disajikan nganggo tampah. Sak tampah kuwi isine wis macem-macem dari nasi putih gereh petek, telor rebus, opor ayam ditambah megono yo ora ketinggalan. Sak tampah jatahe nggo wong wolu (8 orang).

Nek wis disajikan kabeh, ono sing ngomando bahwa santap malam dimulai, trus do disantap bareng-bareng nang tampah kuwi. Rayahan lawuh karo tarik-tarikan opor ayam wis dadi pemandangan biasa.

Adegan kuwi ora suwi si paling ¼ jaman lah, ribute wong bersantap karo kojahan, ndadekke suasana dadi rahat. Nek turah baru dibungkus nggo ngomah.

Jare tau ono wong sing pas muluk sego katutan untu, mbuh untune sopo ora ono sing ngaku. Co’e dong ngunyah sego karo kojahan mau kuwi ono salah satu peserta sing copot untune ora kroso. Co’e....

Perkembangan dari coro sing wis tak critakke nang nduwur kuwi suwi-suwi berubah. Tetap disajikan nganggo tampah berkate, yo tetep nggo wong wolu, tapi trus ora disantap nang kono. Sak rombongan tampah ono sing dituwakke sing tugase mbagi berkat mau dadi wolu (sesuai jumlah anggta rombongan tampah) nek wis dibagi trus diwadahi nang godong jati sing wis disediakke bareng tampah mau. Trus digowo mulih nggo keluarga.

Belakangan, penyajian berkat wis ora nganggo tampah meneh, tapi wis dibungkus nggo tiap orang. Dadi wis wis ora ono crito tarik-tarikan daging utowo katutan untu meneh.

Crito sing tak alami sing paling berkesan yo pas ono slametan manten. Setelah berkat dibagi nggo sing teko, misale ono turahe, mesti trus dikirim-kirimke nang sedulur-sedulur sing ora teko, kadang dudu mung sedulur thok, kerabat mbarang lah. Kadang-kadang ngantek entek, ngantek wong ngomah sing ngrewangi nang omah utowo sing ngeter-ngeterke berkat wis ora keduman. .... Ngenes ho ..?

Lha berdasarkan pengalaman kuwi, begitu acara doa selesai berkat wis dibagi karo sing teko ndongo. Khan igik ono turahe, sebelum ada perintah untuk dianter nang sedulur-sedulur sing adoh. Kami (Mas Cang, Mas Gun, Yon dll), njupuk beberapa berkat nggo dipangan ngko bengine bar tugas ngeter-ngeterke berkat karo beres-beres kloso, mbenekke mejo kursi.

Biasane sak durunge dipangan diumpetke ndisik. Baru bengi-bengi disantap bareng-bareng.

Suatu ketika, biasa taktik dan stategi tidak berubah, kami nyisihke berkat beberapa nggo bengi bar ngeter-ngeterke berkat. Tapi wektu kuwi ngumpetkene nang laci kamar ngarep. Wis dianggep aman lah, jarang ono wong sing mbukak-mbukak laci kamar ngarep pada saat sibuk seperti ini.

Lha koq tan kocapo, setelah tugas beres-beras karo ngeter-ngeterke berkat rampung, mbuh saking kesele po priye kami keturon, tertidur .......... yo wis ra berkat nasi kebuli dan perangkat lauk bernuansa kambing pun lewatlah.

Kelingan kelingan wis seminggu ........................

Kaku othok wis ..............

Jakarta, Desember 2009

Terjemahan

PENGALAMAN DI PEDALANGAN

Tidak terasa sudah berpuluh-puluh tahun aku meninggalkan Pekalongan, meninggalkan dalam arti pindah tempat tinggal, tidak dihitung apabila bolak-balik berkunjung pada waktu lebaran atau waktu-waktu lainnya.

Terminal bis sudah pindah empat kai sejak aku kecil sampai sekarang.

Yang pertama sewaktu aku SD, terminal tempatnya di pojok alun alun barat laut, pas di perempatan jalan. Namnya juga jaman dulu masihserta sedikit, bus yan gparkir saja tidak sampai 10, Merknya yang terkenal pada waktu itu dan masih terdengan hingga sekarang ya PO DAHLIA ada lagi PO MOGA ds.

Setelah sudah agak banyak mobil yang lewat di prapatan tersebut mendatangkan kemacetan, lalu pindah ke Sayun, THR (nama THR adalah setelah diperuntukkan buat Terminal itu).

Kepindahan yang ketiga di Noyotaan (entah ikut kelurahan mana) yang dekat dengan pertigaan itu lho. Belakangnya buat pangkalan Ezri.

Yang terakhir pindah mendekati Batang. Lha kalau yang ini baru bisa disebut terminal bis, sangat bluas.

PEDALANGAN

Aku mau cerita pengalamanku di Pedalangan, tempatnya embah Katri, nenek, kakek aku sudah meninggal.

Banyak pengalaman di rumah ini, karena rumahnya besar, halamannya luas, pokoknya seperti rumah-rumah jaman dahulu.

yang pertama inget waktu masih kecil sekali, TK saja belum, mungkin ya sekitar umur 3 atau 4lah. Aku bersama kakakku dan saudara lainnya masih bermain gundu/kelereng, yang main trentu saja kakak, aku hanya nonton saja. Entah sedang main apa sekedar menghitung aku tidak mengerti. Tiba-tiba aku lihat salah sau kelereng yang agak kusam, tidak mengkilat seperti yang lainnya. Lalu saya albil kelereng itu, niatnya aku basahi dengan ludah biar mengkilat (jijik tap karena masih kecil yan maklumlah) eee lha akhirnya kelereng itu ketelen, karena kelereng kan berat danlicin.

Aku sendiri kaget dan takut. Laha melihat hal seperti itu langsung pada heboh, katannya aku menelan kelereng ... aku hanya bisa berdiam diri saja tanpa dapat mengucapkan sepatah katapun. He he .. nggal lazim ya ?

Habis itu aku dirawat di rumah sakit kraton karena sakit katanya tipes.

Aku memang tidak tinggal di rumah pedalangan, hanya sering saja main, aku inget kata-katanya nenek Katri : “udah sama aja So kwijan sama disini. Jangan dibedakan” Nenek Katri dulu kalau aku datang suka dipeluk.

Di Pedalangan itu aku belajar mengaji yang pertama bersama sepupu lainnya, setelah ashar. Karena di Pedalangan orangnya banuyak jadi menunggunya lama.

Paling rame apabila saatnya memanggil tukang cukur rambut. Dhulu ada tukang cukur rambut langganan yanglewat. Wo Se’un namanya, bungkuk udang, ya mungkin ini yang menandai ilmu padi, makin menunduk makin bersisi. Orangnya memang sudah tua, Jadi bungkuknya karena sudah berumur.

Wah perkara mencukur rambut usudah menjadi keahliannya. Apalagi yang dipotong modelnya sama semua. Potong habis semua kecuali diatas jidat disisain sedikit.

Pokoknya siapa saja (anak-laki-laki) dipotong model sepeeti ini. Kalau dahulu namanya model Bross (tulisannya bener nggak ya?). Tidak ada yang protes, karena nggak berani sama orang tua (orang yang sudah tua).

Kalau aku pas di sana, tidak bisa menghindar dari kewajiban dipotong Wo Se’un.

Inget lagi kalau pas ada acara slametan kok nampaknya sering sekali. Dari mulai tahlilan, slametan, sunatan, nikahan pokoknya karena rumahnya esar jadi bisa buat acara apa saja tidak usah mmenutup jalan atau meminjam tempat tetangga.

Tapi karena listriknya sedikit (cuman beberapa watt) jadi harus dibantu petromaks, sekitar 6 – 8 meminjam dari Langgar. Bagi saudara yang tdiak tahu petromaks perlu dijeoaskan bahwa Petromaks itu sangat terang seperti neon, tetapi karena berbahan bakar minyak tanah yang disemprot dengan kuat pada jaring yang berbentuk bolamlampu.

Lha karena kuatnya semprotan itu mengahsilkan nyala yang sangat terang, oleh karena itu harus sering disemprot.

Bila ada tahlilan, dul, setelah selesai doa dihidangkan apa yang dinamakan berkat yang disajikan dengan tampah (tempat nasi yang berbentuk lingkaran pipih berdiameter sekitar 70 cm dari anyaman bambu). Isinya sudah macam-macem, dari ikan asin, telur rebus, opor ayam, megono dan nasi putih. Pertampah untuk 8 orang.

Setelah tersaji semua ada seorang yang memberi komando, bahwa santap malam sudah dimulai, kemudian disantap bersama-sama di tampah tersebut. Tarik menarik lauk-pauk sudah menjadi pemandangan biasa.

Adegan tersebtu berlangsung tidak lama, paling ¼ jam, sibuknya oarang bersantap dengan ngobrol menjadikan suasana jadi hangat. Apabila sisa dibungkus dibawa pulang ke rumah.

Katanya ada cerita, sewaktu akan menyuap makanan,ada terselip potongan gigi. Ngaak tahu giginya siapa. Mungiin sewaktu menyunyah sambil ngobrol ada salah satupeserta yang copot giginya. Entahlah ..

Perkembangan dari cara yang sudah aku ceriterakan tadi lama-lama berubah. Tetap disajikan dengan tampah, tetap untuk jatah 8 orang, tetapi tidak disantap disitu. Satu robongan tampah ada yang dituakan untuk membagi berkat tersebut dengan jumlah peserta, lalu dibungkus dengan daun jati yang sudah disediakan. Kemudian dibawa pulang untuk leuarga.

Belakangan, penyajian berkat tidakmemakai tampah lagi, tetap dibungkus untuk per orang, Hingga cerita tarikmenarik lauk dan menemukan potongan gigi tidak ada ceritanya lagi.

Cerita yang saya alami yang paling berkesan adalah ketika ada acara kendurian pernikahan. Setelah berkat dibagikan kepada pengunjung, misalnya ada yang sisa, maka dikirim ke Saudara-saudara yang tidak hadir, kadang-kadang tidak hanya saudara tetapi kerabat juga. Kadang-kadang sampai berkat habis, sampai-sampai seisi rumah yang ikut berbenah memberesi rumah atau yang mengantarkan berkat tidak kebagian berkat. Kasihan deh.

Lha berdasarkan pengalaman itu, begitu acara doa selesai, berkat sudah dibagi kepada para hadirin. Sisa berkat sebelum ada perintah untuk diantarkan ke Saudara-saudara, kami mengambil beberapa berkat untuk dimakan malam harinya setelah selesai mengantar berkat ke Saudara atau membereskan tikar untuk kenduri.

Biasanya sebelum dimakan disimpan dulu. Baru malam hari disantap bareng-bareng.

Suatu ketika, biasa taktik dan strategi tidak berubah, kami menyisihkan berkat beberapa untuk malam harinya setelah tugas mengantar.

Berkat saat itu disimpan di laci kamar depan. Sudah dianggap amanlah, pada saat seperti ini jarang ada orang yang membuka atau masuk ke kamar itu.

Lha kok tiba-tiba, setelah tugas beres-beres dan mengantar berkat selesai, entah karena kecapaian atau karena apa kami tertidur ...... ya sudahlah, nasi kebuli dan perangkat lauk bernuansa kambingpun lewatlah.

Begitau teringat sudah satu minggu .......

Bener-bener sial ....

Jakarta Desember 2009


Selasa, 01 Desember 2009

JALAN-JALAN DI TOKYO


Jumat 25 Desember 2003, kembali kami sekeluarga siap melakukan perjalanan ke luar negeri, Jepang adalah tujuan kami saat itu. Anak-anak masih belum percaya betul bahwa hari itu kami jadi melakukan perjalanan ke Tokyo, luar negeri. Sengaja saya tidak memberitahukan kepada mereka sebelumnya karena memang proses untuk itu mengalami berbagai hambatan dan ketidak pastian selain itu juga agar anak-anak tidak terganggu konsentrasinya dalam menjalani ulangan akhir semester.

Meskipun tiket gratis dari Garuda Indonesia pulang pergi sudah ada di tangan.
Proses untuk itu memang sebenarnya kurang mulus, dan cenderung berspekulasi saja.

Persyaratan untuk mengurus visa sebenarnya memang ada kelemahannya, apalagi bagi negara yang pernah menjajah negara kita itu dikenal sebagai negara yang sangat disiplin dan ketat. Yaitu masalah jangka waktu pasport dan masalah tabungan. Jangka waktu pasport yang saya miliki adalah tinggal 3 bulan saja, sedangkan persyaratan yang ditentukan adalah minimal 6 bulan. Untuk deposito saya tidak tahu berapa minimal yang harus dipunyai, tetapi ada kabar seseorang gagal mendapatkan visa gara-gara hanya mempunyai simpanan di bank walaupun sudah menunjukkan simpanannya sebesar 70 juta.

Saya sangat bersyukur karena berbagai hambatan dapat dilewati dengan mudah, mungkin juga karena alasan kunjungan saya dan adanya “surat sakti” berupa undangan dari kakak yang ada di Tokyo. Dan keluarlah ijin memasuki negara Jepang selama dua minggu, setelah membayar fiskal sekitar 200 ribu rupiah per orang.

***

Penerbangannya dijadwalkan pukul 11 malam, tetapi untuk berjaga-jaga terjebak macet dijalan, kami sudah berada di bandara mulai pukul 8 malam. Lama perjalanan adalah 6 jam langsung menuju Tokyo, perbedaan waktu dengan WIB adalah 2 jam.

Sekitar 1 jam menjelang pendaratan terdapat pemandangan indah di sebelah Timur pesawat, yaitu semburat warna jingga di langit, menandai akan terbitnya matahari pagi.

Bersamaan dengan itu keluarlah breakfast yang sudah mulai beraroma masakan Jepang. Ketika ditawari oleh pramugari untuk memilih omlet atau nasi, dengan tangkas aku pilih nasi. Ternyata nasi ikan panggang dengan rasa Jepang masih belum mengena pada selera saja, dengan berat akhirnya selesai juga kewajiban menghabiskan hidangan itu. Setelah itu saya minum banyak-banyak untuk menetralkan lidah saya pada kondisi semula.

Begitu turun dari pesawat kami langsung mengikuti penumpang lainnya yang berjalan dengan cepat, sehingga kemegahan dan kemewahan bandara Narita tidak sempat kami nikmati dan kagumi.

Sampai pada pemeriksaan imigrasi kami sempat terhenti, dan ada masalah dengan formulir declaration yang sudah kami siapkan di pesawat. Saya rogoh kantong celana belakang dan samping, kantong baju dan jas. Astaga !, formulir itu nampaknya ketinggalan di pesawat.

Akhirnya kami diharuskan mengisi lagi formulir declaration baru oleh petugas imigrasi jepang. Dengan terburu-buru kami selesaikan tugas tersebut, dan segera menyerahkan ke petugas imigrasi yang sudah lengang karena penumpang lainnya sudah selesai melewati loket imigrasi ini, petugas imigrasi dengan teliti memeriksa dokumen yang kami serahkan. Setelah petugas menyatakan OK, dengan lega kami segera melewati imigrasi tanpa ada pemeriksaan isi koper dan tas.

Semua penumpang sudah dengan cepat menghilang dari pandangan. Kami tinggal meraba-raba saja kemana arah berikutnya. Segera kutemukan ban berjalan tempat keluarnya bagasi. Ban berjalan sudah berhenti dan kumpulan tas dan koper kami teronggok sendirian disana, itulah salah satu petunjuk kemana kami harus pergi. Dengan bergegas kami segera menghampiri mendapatkan koper kami dan cepat-cepat keluar dari salah satu pintu, dan Alhamdulillah, tepat begitu pintu terbuka aku mendapati kakak sekalian sedang menunggu menjemput.

Kami dengan menggunakan mobil van ukuran keluarga merk Toyota yang kalau di Indonesia sudah termasuk mobil mewah, menuju Meguro – Tokyo, sekitar 40 km dari bandara Narita. Sempat macet waktu memasuki kota Tokyo tepatnya ketika melewati Rainbow Bridge, jembatan yang melintasi teluk Tokyo City.
Mobil dilengkapi GPS (Global Positioning System), sebuah alat yang bisa mengetahui arah jalan dan di posisi mana mobil sedang berada, alat ini dikendalikan melalui satelit. Mobil tersebut dilengkapi pula dengan alat pendeteksi jarak dengan mobil di depan, apabila terlalu dekat dengan kecepatan tertentu, maka alat ini akan menggerakkan sistem rem pada mobil tersebut. Untuk memudahkan parkir, mobil ini juga dilengkapi kamera sudah sedekat apa mobil ini dengan benda di belakang mobil.

Kami tinggal sementara di rumah kakak di salah satu apartemen 4 lantai di daerah Meguro. Tidak jauh (sekitar 300 meter dari Balai Indonesia yang juga untuk Sekolah Republik Indonesia di Tokyo (SRIT).

***

ASAKUSA TEMPLE

Jalan-jalan pertama kami lakukan pada tanggal 26 Desember 2003 yaitu Namamishe Shoping Street di Asakusa, naik mobil di jalan raya Jepang memang terasa nyaman, pengemudi yang saling bertoleransi dengan sesama pengemudi menjadikan perjalanan dengan kendaraan serasa semakin nyaman. Namun kenyamanan tersebut terbayar dengan harga parkir yang mahal.

Tarif parkir rupanya tidak standart sebagaimana harga bensin di tiap-tiap tempat. Ada yang mempunyai tarif biasa dan ada mahal hal ini tergantung dari lokasi dan kondisi tempat parkir.

Setelah berputar-putar mencari tempat parkir kosong akhirnya kami menemukan suatu lahan yang tidak terlalu luas, sekitar 1 ha, dengan alat parkir otomatis dan tidak ada orang yang menunggu. Dari mulai pengambilan karcis, pengamanan pada mobil yang diparkir sampai pembayaran dilakukan melalui mesin.

Berbagai pernak-pernik kerajinan tangan khas Jepang, lengkap dari yang paling murah sampai yang paling mahal ada disini, gantungan berbagai corak dan model ada yang sekitar 300 yen sampai dengan 2000 yen, sedangkan harga sebuah boneka yang berpakaian khas jepang sangat bervariasi, ada yang 1000 yen ada juga yang lebih mahal.

Asakusa ternyata tempat wisata asing yang cukup banyuk dikunjungi wisatawan. Obyek yang menarik adalah sebuah kawasan kuil Shinto yang nampaknya berumur sudah ratusan tahun.
Di daerah ini sempat melihat atlit sumo yang sedang berjalan dengan mengenakan piama khas jepang Tidak juga terbayang bahwa atlit sumo di Jepang adalah bak seorang selebritis yang banyak mempunyai penggemar sehngga dimanapun mereka berada selalu dikerubuti oleh muda-mudi penggemarnya.

Patung yang terkenal pada kuil itu adalah Sensoji Temple yang konon dibangun sejak tahun 1651.

UENO PARK

Di Tokyo yang padat, dengan perumahan dengan populasi yang lebih tinggi di bandingkan Jakarta, ternyata banyak mempunyai taman yang cukup luas, salah satunya adalah Taman Ueno Park


Ueno Park is a large public park just next to Ueno Station. It was opened to the public in 1873, and offers its visitors a large variety of attractions.
At the park's south entrance stands a statue of Saigo Takamori, an important personality of the late Edo and early Meiji Period. He played a central role in realizing the Meiji Restoration of 1868.
Ueno Park is famous for its many museums, especially art museums, namely the Tokyo National Museum, the Orient Museum, the National Science Museum, the Shitamachi Museum, the National Museum for Western Art and the Tokyo Metropolitan Fine Art Gallery.
Since 1882, Ueno Park is home to Japan's first zoological garden. Its main attraction are giant panda bears. The first panda bears where a gift from China on the occasion of normalization of diplomatic relations in 1972.
Shinobazu Pond is a large pond in Ueno Park. A temple for the goddess of Benten stands on the island in the middle of the pond.
Toshogu Shrine is a shrine dedicated to Tokugawa Ieyasu, the founder of the Edo shogunate, which ruled Japan from 1603 to 1867. It is well worth paying the 200 Yen admission fee in order to enter the inner shrine area and main building.
Last but not least, Ueno Park is famous for its more than 1000 cherry trees. During the cherry blossom season, Ueno Park becomes one of the country's most popular and crowded spots for hanami (cherry blossom viewing) parties.

HAKONE

Hakone is part of the Fuji-Hakone-Izu National Park, less than 100 kilometers from Tokyo. Famous for hot springs, outdoor activities, natural beauty and the view of nearby Mt. Fuji, Hakone is one of the most popular destinations among Japanese and international tourists looking for a break from Tokyo.

Lake Ashi (Japanese: Ashinoko) was formed in the caldera of Mount Hakone after the volcano's last eruption 3000 years ago. Today, the lake with Mount Fuji in the background is the symbol of Hakone.
The best views of the lake in combination with Mount Fuji can be enjoyed from Moto-Hakone, from the Hakone Detached Palace Garden and from the sightseeing boats cruising the lake.
Note however, that clouds and poor visibility often block the view of Mount Fuji, and you have to consider yourself lucky if you get a clear view of the mountain. Visibility tends to be better during the colder seasons of the year than in summer, and in the early morning and late evening hours.
Two companies, Hakone Sightseeing Boats and Izuhakone Sightseeing Boats, operate boats between Moto-Hakone and Hakonemachi at the lake's southern shores and Togendai and Kojiri at the northern shores.
A boat cruise from one end of the lake to the other takes roughly 30 minutes and costs 970 Yen. The Hakone Free Pass is valid on the pirate ship shaped Hakone Sightseeing Boats but not on boats operated by Izuhakone.
KAMAKUIRA

Kamakura is a coastal town in Kanagawa prefecture, less than one hour south of Tokyo.
Kamakura became the political center of Japan, when Minamoto Yoritomo chose the city as the seat of his new military government in 1192. The Kamakura government continued to rule Japan for over a century, first under the Minamoto shogun and then under the Hojo regents.
After the decline of the Kamakura government in the 14th century and the establishment of its successor, the Muromachi or Ashikaga government in Kyoto, Kamakura remained the political center of Eastern Japan for some time before losing its position to other cities.
Today, Kamakura is a very popular tourist destination. Sometimes called the Kyoto of Eastern Japan, Kamakura offers numerous temples, shrines and other historical monuments. In addition, Kamakura's sand beaches attract large crowds during the summer months.
SHIBUYA

Shibuya is one of the twenty-three city wards of Tokyo, but often refers to just the popular shopping and entertainment area around Shibuya Station.
Shibuya is one of Tokyo's most colorful and busy districts and birthplace to many of Japan's fashion and entertainment trends. Most of the area's large department and fashion stores belong to either Tokyu or Seibu, two competing corporations.
A prominent landmark of Shibuya is the large intersection in front of the station (Hachiko Exit), which is heavily decorated by neon advertisements and giant video screens and gets crossed by amazingly large crowds of pedestrians each time the traffic light turns green.
YEBISHU PARK

Yebisu Garden Place is one of Tokyo's most pleasant cities within the city. Consisting of roughly a dozen buildings and skyscrapers, it features a large array of restaurants and shops including a Mitsukoshi department store, the Westin Tokyo hotel, offices, residential space and two museums.

Central Square
Chateau Restaurant Taillvent-Robuchon
Yebisu Garden Place is built on the former site of a beer brewery, where the still existing Yebisu Beer brand had been brewed since 1890. Interestingly, it was the beer brand which gave the later developing town and railway station of Ebisu* its name, and not the other way around.
The Beer Museum Yebisu (entrance free) commemorates the original brewery, displays exhibits about the history and science of beer brewing in Japan and the world and offers beer tasting. After a visit to the beer museum, you may want to consider a meal and drink at the beer restaurant "Beer Station".

Beer Museum Yebisu
* "Ebisu" is the modern way to write "Yebisu", as the syllable "ye" and corresponding kana characters have almost completely disappeared from the modern Japanese language and been replaced by the "e".
ODAIBA


Rainbow Bridge from Odaiba
Introduction:
Daiba, literally meaning "fort", refers to some of the man made islands in the Bay of Tokyo, which were constructed in the end of the Edo Period (1603-1868) for the city's protection against attacks from the sea.
During the extravagant 1980s, a spectacular redevelopment of the islands into a futuristic business district was started, but development was critically slowed down after the burst of the "bubble economy" in the early 1990s.
It was not until the second half of the 1990s, that Odaiba developed into one of Tokyo's most interesting tourist spots and the highly popular shopping and entertainment district, which it is today. Further development of the area is still underway.

Attractions:
Among the attractions of Odaiba are several shopping and entertainment centers, theme parks, museums and the futuristic architecture and city planning. Even access to Odaiba can be considered an attraction (see "How to get there").
AQUA LINE

Unique Bridge-and-Tunnel Expressway Across the Bay

Trans-Tokyo Bay Motorway named the Tokyo Bay Aqualine, a toll highway that spans the narrowest gap of Tokyo Bay, opened to traffic in December 1997 after 31 years of studies and construction at the total cost of 1.44 trillion yen (11,077 million dollars; $1=\130). The 15-kilometer (9.3-mile) expressway, connecting Kisarazu City of Chiba Prefecture and Kawasaki City of Kanagawa Prefecture, makes it possible to take a round of the bay by car. Of the total length, 4.4 kilometers (2.7 miles) from the Kisarazu side is a bridge and 9.5 kilometers (5.9 miles) from the Kawasaki side is an undersea tunnel, which is the world's longest undersea tunnel, running 60 meters (197 feet) deep under the surface of the water.
Before the completion of the Aqualine, transportation between Kisarazu City and Kawasaki City required driving 100 kilometers (62.1 miles) along the coastline of Tokyo Bay or taking a one-hour ferry. Now the Aqualine connects the two cities in about 15 minutes, and its opening will drastically change the flows of goods and people, including tourists, in the Metropolitan area.

Created on the artificial island that connects the bridge and tunnel portions, Umi-hotaru is a parking and rest area which was designed as a tourist attraction jutting out from the waters of Tokyo Bay.


Photos: (From top) the expressway on the Kisarazu side (Japan Highway Public Corporation); Bridge girders on the Kisarazu side (Chiba Prefecture); Umi-hotaru (Japan Highway Public Corporation).

CERITA REMAJA

KETIKA DIRI INI INGIN KEMBALI

Oleh : Gunarso

Sudah berulangkali ia coba tegarkan jiwanya, sebagaimana selalu ditanamkan ayahnya apabila sedang menghadapi sesuatu masalah agar tidak menghambat urusan yang lainnya. Namun Riska kali ini tidak bisa menghalau kesedihan yang telah menimpanya. Riska seakan-akan sudah tidak bisa berbuat apa-apa kini.

Kamar yang dijadikan tempat berteduh selama beberapa minggu ini, kini justru memberikan kepedihan di hatinya. Sinar redup yang dipancarkan dari lampu di kamar itu, kini nampak sebagai sorot mata yang dengan sinis dan angkuh menatapnya. Menjadikan ia semakin tidak nyaman tinggal di kamar ini.

Ibu kost, demikian Riska dan beberapa temannya menyebut Bu Minah sebagai pemilik rumah itu, memang belum pernah membicarakan posisi dan pekerjaan apapun tentang keberadaannya disini, apalagi menyuruhnya pergi dari tempat itu. Tetapi ia sudah sangat tidak betah dengan tempat ini. Pagi tadi secara tidak sengaja ia melihat Bu Minah menemui seorang laki-laki setengah baya yang berpenampilan rapi. Pembicaraannya terhenti ketika menyadari ada Riska disitu. Riska memang tidak mengetahui dengan pasti apa yang dibicarakan. Tetapi firasatnya sangat kuat, bahwa sesuatu yang mengerikan akan terjadi.

Diraihnya foto berbingkai di salah satu sudut ruangannya dengan hati-hati. Ditatapnya senyum yang terlukis di dalam wajah foto itu, orang yang sangat dicintainya. Foto ayahnya itu sudah sedikit berdebu, dengan pelahan diusapnya permukaan foto itu dengan tangannya, seolah tidak merelakan wajah orang yang disayanginya itu kotor. Senyum itu memang sering membuatnya damai apabila sedang sedih. Tetapi kali ini justru semakin menyayat hati, air matanya tidak terbendung lagi mengalir lewat sudut mata lentiknya.

“Pa…. Riska mohon ampun …..” bisik Riska dengan gemetar seiring dengan duka yang menghimpitnya. Sambil memeluk dengan erat foto papanya.

Dengan foto dalam pelukannya cukuplah bagi Riska untuk mengurangi beban yang menghimpitnya. Walaupun tidak mengurangi deras air matanya.

Sekilas demi sekilas, terbayang peristiwa beberapa waktu lalu. Ketika itu, saat ia meninggalkan rumah, Riska seakan mempunyai bayangan yang sangat jelas membentang dan siap menyambut kedatangannya dengan penuh kehangatan. Harapan yang ditanamkan oleh Henky dan karena itu ia dambakan bersama Henky seolah membutakan akal sehatnya. Segala perkataan dan bujuk rayu Henky seakan merasuk ke dalam jiwanya yang paling dalam. Sehingga Riska merasakan tidak ada lagi orang yang lebih hebat dari dia untuk baginya bersandar dalam dirinya.

Sebagai kakak kelas Henky memang terlihat selalu mempunyai wawasan yang lebih luas darinya yang masih berstatus siswa baru. Dimulai dari waktu pekan orientasi di SMU, Henky yang merupakan salah satu panitia selalu menjadi pelindung dari hukuman dari kakak-kakak seniornya apabila ia melakukan kesalahan. Dari situlah kemudian Riska semakin dekat dengan Henky. Dialah yang selalu menuntun dan menunjukkan tempat-tempat yang baginya masih baru. Sampai akhirnya ia bersimpati kepadanya. Apalagi penampilannya yang jauh dari rapi dan terkesan seadanya itu membuat Riska menemukan suasana yang berbeda dengan apa yang selalu diberlakukan di rumah dengan disiplin ketat dari mamanya. Berteman dengan Henky, Riska memperoleh banyak nuansa baru dan sifat Henky yang cuek bebek itu memperbolehkan Riska untuk berbuat melakukan apa saja. “Ikuti saja hati nuranimu dan jangan pikirkan orang lain, dan kamu pasti akan menemukan kebahagiaan yang sesuai dengan jati dirimu”. Demikian berkali-kali yang diucapkan Henky kepadanya.

Adalah Riska yang seakan baru lepas dari kungkungan rumah dengan aturan yang ketat, seakan-akan menemukan sayap untuk terbang kemanapun yang ia inginkan. Seakan-akan tidak ada lagi orang lain yang dapat membahagiakan dirinya selain Henky. Adalah Henky yang tidak pernah menyudutkan Riska dengan menanyakan berapa nilai mathematika yang jelas-jelas sangat tidak disukainya. Atau dengan membandingkan angka raport dirinya dengan nilai adiknya yang selalu mendapatkan ranking. Sementara papanya yang penyabar selalu pulang malam sesuai dengan meningkatnya prestasi di kantornya, menjadikan ia jarang berkomunikasi dengan papa. Riska masih menganggap bahwa papa pasti bisa menerima keadaan dirinya termasuk apa yang tengah berada dihatinya saat itu. Dan biasanya papa mempunyai jalan keluar yang bijak untuk dijadikan panutan.

Berada di rumah lantas menjadi siksaan bagi Riska, ia selalu mengurung dalam kamarnya, agar terhindar dari kata-kata mama yang sering ia anggap menyudutkannya. Dan mengharapkan segera lekas pagi dan berada di sekolah lagi dan dapat lagi bertemu dengan Henky lagi. Bahkan Riska berani membohongi mamanya bahwa ia pulang sore karena ada les.

Itu adalah salah satu peristiwa yang sebenarnya sudah lama dilupakan Riska. Namun dalam kedukaannya kali ini mendadak muncul dan dikenang oleh Riska dan dianggap sebagai awal kehancuran masa depannya.

Riska menghela nafas panjang. Sosok Henky memang pernah menjadi bagian yang tidak terpisahkan darinya. Dan kini Riska sudah bisa mengendalikan diri dengan tenang sesuai dengan meningkatnya kedewasaannya. “Ia memang pernah merasuk dalam sumsumku. Tidak sekarang". Kini semua itu sudah menjadi salah satu sisi gelapnya.

Kedekatannya dengan Henky sempat membuat konsentrasi belajarnya menurun. Dan tentu saja menjadikan orang tuanya kecewa dengan nilai-nilanya yang semakin menurun. Setiap kata-kata yang ia dengar di rumah menjadi sesuatu yang ditakuti Riska. Kata-kata mamanya nampaknya semakin menyakitkan saja. Riska sendiri masih berusaha untuk lebih tekun lagi berkonsentrasi dalam belajar. Tetapi manakala ia membuka buku pejalaran yang muncul adalah wajah Henky yang diikuti dengan lamunan dan rencana yang akan ia lakukan bersamanya esok hari.

Henky memang tidak pernah menanyakan berapa nilai ulangan dan mata pelajaran yang diajarkan. Henky hanya selalu berkomentar dengan enteng manakalan Riska menunjukkan nilai jelek dalam ulangan : “...itu tampaknya memang bukan bidang yang sesuai dengan bakatmu”.

Kedekatannya sudah sampai pada taraf yang tidak bisa dipisahkan lagi. Sehingga Riska selalu ingin selalu di dekatnya. Baik pagi, siang, malam dan setiap saat, yang ia pikirkan hanyalah Henky seorang. Sementara ia sendiri sadar bahwa apabila ia jauh darinya maka ia tidak bisa konsentrasi dalam hal apa saja, apalagi untuk belajar.

Sudah dari semula orang tua Riska tidak menyenangi hubungan itu, karena kedekatannya bukan untuk tujuan sekolah atau organisasi. Apalagi dengan melihat penampilan anakmuda itu yang terkesan kurang sopan dalam berpakaian.

Suatu ketika orang tua Riska bagai terkena petir mendengar permohonan Riska untuk menerima Henky apabila melamar untuk menikahinya. Orang tua Riska tidak menyangka bahwa Riska sudah demikian jauh berhubungan dengan Henky. Riska yang dihadapannya masih kelihatan gadis lugu yang baru keluar dari rangkulan tanganya.

Kini, di dalam kamar yang sempit ini. Riska merasakan bahwa keputusannya itu adalah suatu kebodohan terbesar dalam hidupnya. Bagi orang tua Riska sebenarnya bukan karena Henky yang berpenampilan seadanya itu yang tidak mengijinkan permohonan anaknya. Tetapi ia ingin memenuhi tugasnya sebagai orang tua dalam hal pendidikan yaitu menyelesaikan kuliahnya dulu. Apalagi mamanya yang dengan ambisius ikut menggenjot pelajaran Riska hingga bisa berguna bagi masa depannya.

Barangkali inilah saat yang tidak pernah dilupakan Riska, dan barangkali juga orang tuanya. Riska yang sudah diliputi cinta pertamanya itu justru menjadi berang dan marah-marah.

“Sampai kapan mama akan terus mendikte kehendak, menghalangi keinginan dan menyumbat nurani Riska ?”. Katanya waktu itu dengan suara keras yang jarang keluar dari mulutnya, kecuali apabila sedang merengek atau tertawa ketika digoda papanya.

Adalah Riska, yang belum mengenal benar kehidupan yang sesungguhnya. Adalah Riska yang sudah diliputi cinta buta dan tidak mampu melihat hidup dengan nyata. Ia masih sayang orang tuanya, ia masih menyukai kenangan masa lalunya. Ia tetap menghargai jasa orang tuanya yang telah mendidik dan merawatnya dan hal-hal lainnya. Tetapi ia sudah sangat yakin dengan masa depannya bersama Henky. Bayangan indah itu seakan terbentang dengan nyata. Memaklumkan keputusannya untuk memilih. Apalagi papa pada waktu itu dengan geram memberikan ultimatum padanya, entah disengaja atau terlepas ucapan “Mau ikut papa atau ikut pacarmu itu”. Riska sendiri merasa bahwa papa yang selama itu lembut dan menyayanginya bisa mengatakan ucapan yang begitu keras, dianggapnya suatu tantangan bagi dirinya untuk menunjukkan jati dirinya. Dengan berat hati ia akhirnya memutuskan suatu pilihan, walaupun dengan hati perih.

Dengan langkah tegar, walaupun dengan hati hancur, ia menjinjing tas dan menggendong ransel berisi pakaian dan keperluan seadanya, dengan satu bayangan yang semakin jelas, seakan sesuatu telah membuka tangan siap menyambutnya. Dengan keyakinan yang mantap. Tidak lupa foto papa yang selalu mengajarkan kemandirian padanya, agar dalam hidup tidak boleh terlalu pasrah menggantungkan nasib pada keadaan saja. “Hidup adalah selalu bekerja untuk menjadikannya menjadi lebih baik. Berusahalah untuk selalu menjadi yang lebih baik”. Kalimat itulah yang selalu terngiang dalam dirinya manakala ia sedang sedih.

Riska waktu itu benar-benar merasa sudah bisa mandiri dan bisa memutuskan pilihan hidupnya, usianya sudah tujuh belas tahun. Bersama Henky ia bertekad membangun kehidupan baru yang kelihatan berkilauan sinarnya. Walaupun tanpa seijin kedua orang tuanya akhirnya ia putuskan juga pilihannya dengan bulat.

Akhirnya Riska, sambil terus mendekap foto papanya, tahu bahwa tindakannya itu hanya menuruti nafsu mudanya saja yang sangat mentah. Suara keras papa yang mengultimatumnya itu, Riska yakin bahwa sebenarnya tidak berarti papa sudah tidak sayang lagi padanya.

Hidup memang lebih dari sekedar menikmati kehidupan saja. Dibalik itu dibutuhkan suatu energi yang luar biasa agar pada akhirnya dapat menjadikan kepuasan bathin baginya.

Riska akhirnya memilih kost atas biaya Henky, sambil menunggu Henky berhasil dari usaha berdagang yang dilakukan selesai jam kuliah. Tentu hal ini di luar pengetahuan orang tua Henky. Henky berjanji segera menikahinya apabila usahanya berhasil.

Hidup ternyata tidak mudah, Henky tidak kunjung sukses dalam usahanya berdagang. Uang saku Henky dari orang tuanya lama kelamaan tidak cukup untuk membiayai dirinya. Sedang usahanya tidak kunjung berhasil membuat Henky semakin frustasi dan malu pada Riska dan dirinya sendiri.

Tinggallah kini Riska dengan kesendiriannya, beberapa lamanya Henky sudah tidak pernah mengunjunginya lagi, apalagi memberikan biaya bagi kehidupannya.

Sedikit demi sedikit tabungan Riska yang dibawanya nyaris habis terpakai, sampai akhirnya datanglah seseorang yang membawanya pada bu Minah yang memberikan harapan baru baginya. Sebenarnya keputusan untuk bergabung dengan bu Minah, adalah keputusan yang sangat sulit juga bagi Riska. Hal yang paling membuatnya bingung adalah bahwa ia tidak tahu pekerjaan apa yang akan dilakukan di tempat bu Minah, di samping itu ia memang baru pertama kali ini ikut dengan keluarga lain selain dengan orang tuanya. Tetapi untuk tetap tinggal disitu ia sudah tidak mampu lagi untuk membayar uang kost dan untuk makan sehari-hari. Yang dia tahu bahwa bu Minah mempunyai salon kecantikan.

Untuk pulang ke rumah ia takut dengan omelan mamanya, yang pasti akan sangat marah dengan kepergiannya secara diam-diam itu dan perasaan malu mengakui kesalahan dalam melakukan pilihan waktu meninggalkan rumah masih mengendap di dalam kalbunya. Terutama pada papanya yang entah disengaja atau tidak memberikan ultimatum kepadanya untuk ikut papa atau Henky.

Akhirnya ia memang harus memutuskan salah satu pilihan. Tawaran bu Minah nampaknya adalah yang terbaik baginya.

Oleh bu Minah, Riska dilatih keterampilan memotong rambut dan perawatan kecantikan lainnya untuk membantu bu Minah kelak di salonnya. Riska juga sudah mahir merias untuk kepentingan sendiri. Bahkan sudah mampu membantu bu Minah dalam merias dirinya, sakli-kali teman bu Minah pernah juga diriasnya. Riska bahagia dengan keterampilannya itu.

Namun diam-diam Riska bertanya, mengapa ia tidak pernah diajak ke tempat salon kecantikannya itu. Bu Minah selalu mengelak apabila Riska ingin ikut bu Minah ke tempat kerjanya. Alasannya macam-macam.

Sampai suatu ketika Riska benar-benar tidak menyangka bahwa, ternyata tinggal bersama bu Minah adalah hal yang dapat mendorong Riska kejurang yang lebih pahit. Riska sadari itu. Ia mulai curiga dengan tingkah laku bu Minah yang selalu berdandan sangat menor itu. Apalagi seringnya ia membawa tamu bermacam laki-laki ke rumahnya sampai larut malam. Instink Riska tidak menerima itu. Bu Minah yang dikiranya baik hati, menyimpan niat yang paling ditakuti Riska, yaitu pelan-pelan akan menceburkan Riskake dunia hitam.

“ Aku harus keluar dari rumah ini. Segera !” begitu tekadnya dalam hati.

Diambil ransel dan tas bepergian Riska yang dibawa Riska sejak meninggalkan rumah. Dengan hati hancur ia masukkan satu demi satu pakaian ke dalam tas dan ranselnya. Air matanya semakin deras ketika terakhir akan memasukkan foto ayahnya itu. Sekali lagi didekapnya foto itu sebelum akhirnya memasukkannya ke dalam tasnya.

“Pa ... ma, ..... maafkan Riska pa ..... , Riska mau pulang ma ...” Bersamaan dengan itu pecahlah tangis Riska, disertai derai air matanya. Larutlah gumpalan duka yang menghimpit dadanya. Hilanglah segala macam perih yang menyayat hatinya. Untuk beberapa lama, tubuhnya terguncang-guncang menahan gejolak tangisnya.

Dengan berat Riska pelan-pelan mulai bisa mengendalikan perasaannya, berusaha tegar, begitulah nasehat ayah Riska yang selalu terngiang dalam telinganya. Riska siap menerima kemarahan mama dan papanya. Riska bertekad untuk keluar dari rumah ini dan pulang ke rumah adalah tujuannya. Bagaimanapun rumah adalah tempat yang terbaik bagi dirinya. Riska tahu itu. Dengan pikiran tenang dan lebih dewasa.

Dengan air mata yang masih sembab ia sekilas melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan angka 01.30.

“Oh ...... sudah sangat larut” pikirnya “mudah-mudahan penghuni rumah ini sudah tertidur dan tidak mengetahui kepergiannya”

Dengan mengendap-endap ia buka pintu kamarnya, dan segera keluar dengan cepat dari rumah bu Minah.

Riska berteriak ketika melintas apa yang ditunggunya “ Taksi !, .... pulang ke rumah pak”

Untuk beberapa saat pengemudi taksi belum menjalankan mobilnya walaupun Riska sudah duduk manis di jok belakang “Pulang kemana neng ...?” Riska tersentak, bersamaan dengan menyebut alamat rumahnya tergambarlah wajah mama, wajah papa, wajah bibi dan wajah si endut adiknya terbayang semua. Iapun tidak peduli lagi apa reaksi mereka semua.

Di dalam taksi menuju rumahnya, senyum Riska tiba-tiba mengembang, dan itu salah satu petunjuk bahwa dirinya telah dapat menyelesaikan persoalannya. Dan itu mungkin adalah prestasi pertamanya dalam menyelesaikan masalah yang yang menghimpitnya. Kemenangan Riska adalah keberhasilan memutuskan masalah yang menimpanya.

****

Bekasi, November 2002